Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Januari 2008

O, TANÖ NIHA…!!!


PERJALANAN KE NEGERI LANGIT LAPIS SEMBILAN (3)

Note: Singkatnya kami sekeluarga udah sampai ke tempat tujuan ‘Negeri Langit Lapis Sembilan’ dengan selamat. Tetapi inilah bagian cerita yang sangat berat bagi kami. Bukan hanya rasa bahagia yang akhirnya kami rasakan, tetapi ‘tumpleg bleg’, campur-aduk tidak karuan. Bahagia ada, sedih ada, terharu ada, bahkan sampai perasaan takut pun muncul. ‘Tumpleg bleg’, campur aduk, semuanya ada intinya.

Sampai Bandara Binaka kami sempat kebingungan juga, nich. Kok belum ada keluarga yang ngejemput. Hubang-hubungin ke nomer-nomer penjemput ngak masuk ‘teu ayak sinyal’. Yah udahlah, kami tunggu sambil ngeliat-ngeliat seputar Bandara Binaka, ngobrol sana-sini dengan penumpang yang lain yang memiliki itikad baik untuk sekedar membagi keramahan dengan kami. “Bang, mau ke mana?”, tanya salah seorang Bapak kepadaku. Ngak biasa juga sih dipanggil ‘abang’, hari-hari kan dipanggil ‘mas’. “Oh, saya Pak. Saya mau ke…”, begitu saya kebingungan ngejawab pertanyaan Bapak itu. Saya hanya tahu ke Nias, tapi orang tua tinggal di Nias bagian mana, daerah apa kan saya ngak tahu. “ Say, mama teh bumina dimana?”, tanyaku sama istriku. “Di Lolo Moyo, Tuhemberua, Mas”, jawab istriku. Saya rasa bahasa sunda titik temu untuk ngatasin kebingungan saya. Nanya ke istri pakai bahasa Indonesia ketahuan sama bapak itu kalo aku ngak tahu rumah orang tua ‘malu donk’. Pakai Bahasa Jawa, istriku yang ngak tahu. Yah, amannya pakai Bahasa Sunda aja, dech. Antara aku dan istriku sama-sama tahu, dan yang penting nich, supaya Bapak itu ngak ngerti kalo aku sebenarnya ngak tahu daerah mamaku. Supaya aku tetap jadi manusia biasa dan bukan manusia ‘aneh’ di mata bapak itu. Eee.., ini mah strategi aja, tapi harus aku catat, lain kali hal-hal kayak ginian saya harus tau. “Oh, tadi nanyak apa,Pak?”, tanyaku seolah-olah tidak dengar pertanyaan bapak itu tadi. “ Abang mau pergi ke mana?”, jawab bapak itu. “Ooo…, kami mau ke Mama,Pak. Di Lolo Moyo, Tuhemberua”, jawabku. Wah, gawat.., hampir aja aku kelabakan bilang ‘Lolo Moyo’. “O…, Lolo Moyo, Tuhemberua”, sambung bapak itu. “Yah Pak, tapi kami lagi nunggu jemputan. Dari tadi menunggu kok ngak datang-datang. Kami hubungi ngak bisa sambung”, tambahku. “O…, kalo sinyal tidak masuk, berarti mereka ada dalam perjalanan ke sini. Ditunggu aja Bang”, kata bapak itu.

Sementara Dibyo sudah tidak sabar melihat rumah neneknya, tiba-tiba muncullah mobil warna biru laut, yang penumpang di dalamya udah tidak asing lagi bagi istriku. “ Itu adikku Mas, Ama Lucky!”, kata istriku. Syukurlah, penantian kami tidak sia-sia. Ama lucky datang bersama dengan istri dan satu anaknya “Muri”, beserta sopir. “Loh, kok sopir ini kayak orang Jawa juga. Kenapa nyasar di sini itu ‘orang’’, pikirku dalam hati. “Yah, namanya juga cari hidup, Mas. Beginilah, terdampar di mana-mana”, jawab Mas sopir itu saat aku tanya sejarahnya sampai ke Nias. Ternyata itu orang, bawaan Papa Sakhi dan Tante dari Palembang. Jawa yang hidup di Palembang gitu ceritanya. Sementara Dibyo dan mamanya masuk ke dalam mobil, saya dan yang lainnya memasukkan barang bawaan kami dan memastikan bahwa kami siap menuju ke Lolo Moyo, Tuhemberua. Kebahagiaan kedua anak kami mengiringi perjalanan kami itu. “Papa-Papa, mana rumahnya nenek, kok lama amat sih?”, tanya Dibyo padaku. “Sabar Io…, baru 10 menit udah bilang lama’, jawabku. Memang, perjalanan dari Bandara Binaka ke Tuhemberua kurang lebih memakan waktu 30 menit. Jalan raya yang tampak lengang (ngak kayak Bandung yang muacet-cet), jalan yang berlekuk, pepohonan yang menghijau dan yang menarik perhatian saya, banyak ibu-ibu dan anak-anak kecil tampak sibuk bekerja di kebun-kebun milik mereka sepanjang perjalanan yang kami lalui. Ngak tahu ya, ini kebetulan ataukah memang seperti itu etos kerja di Nias. Ibu-Ibu dan anak-anak yang dominan kelihatan di kebun-kebun mereka. Bapak-Bapaknya ke mana ya? Ok, mungkin itu hanyalah kebetulan saja di hari itu. “Papa-papa, laut…, itu lautttt..!”, teriakan Dibyo secara tiba-tiba. Memang, pulau ini begitu nyata dikelilingi oleh lautan. Maklum Dibyo tidak pernah melihat laut selama ini selain dari tv. Habis, di Padalarang laut tidak ada, yang ada hanyalah gunung. Maka setiap kali lihat laut ‘histeris-lah’ dia. Dan yang menarik, disepanjang jalan terdapat panggung-pabnggung kecil yang nanti akan mereka pakai untuk menjajakan ikan hasil tangkapan dari laut. Tetapi sepertinya kami udah kesiangan sehingga tinggal tempatnya saja, sementara ikan dan pedagangnya udah tidak ada lagi. “ Ya udahlah kalo gitu, kita langsung pulang dulu aja. Biar mereka istirahat dulu dan biar berjumpa dengan mama dulu. Belinya ikan nanti sore saja. Sekarang juga udah kesiangan”, begitu kata Ama Lucky. Akhirnya pencarian ikan kami tanguhkan dan langsung kita menuju rumah. Memang, sepertinya mereka dari rumah membawa misi agar jemput sekalian beli ikan. Ya udahlah, lagian kami udah tidak sabar untuk bertemu dengan mama di rumah.

Tidak lama kemudian sampailah kami di rumah Mama. Wow, rumah itu sangat indah posisinya, ada diatas jalan dan bertrap tiga, bangunan satu, bangunan dua dan bangunan tiga. Tampak ramai sih jelas, karena mama tinggal bersama 2 anaknya, Ama Lucky dengan Ina Lucky berikut Lucky dan Muri-nya, Ama Cleo dengan Ina Cleo dan Cleonya, serta yang dekat-dekat dengan situ Ama Hengky dengan Ina Hengky, berikut Hengky dan Teguh (wah.., Teguh, kayak nama orang Jawa saja) yang saya rasa juga turut meramaikan rumah itu dari hari ke hari. Apalagi Papa Sakhi Palembang dan keluarga kan udah duluan di rumah mama. “Hallo, bagaimana perjalanannya?”, begitulah mereka sapa kami begitu melihat kami turun dari mobil jemputan. “Wah, sangat menyenangkan”, begitu jawaban istriku. “Ayuk, kalian langsung aja makan”, kata mama. Wah, begitu denger makan, langsung pikiran saya ke ‘benda haram’ itu ‘ada ngak ya”. Begitu sampai di meja makan, saya langsung lirik ke kiri dan lirik ke kanan, sampai akhirnya ketemu juga yang aku cari ‘benda haram’. “Asyiklah, haram teu naon-naon, yang penting nikmatttt…”, begitu pikirku dalam hati. Kami akhirnya asyik makan sambil cerita ke sana kemari, entah tentang Bandung, entah tentang anak-anak di perjalanan, entah tentang Nias yang dulu dan sekarang dan sebagainya dan sebagainya. Tetapi satu hal yang sudah kami tetapkan sebelum kami berangkat ke Nias, hari pertama kami di Nias, kami akan menengok makam keluarga. Di sanalah, ‘leluhur’ istri saya di makamkan termasuk ayahandanya. Yah, mungkin ini tindakan kami yang controversial juga ‘mengunjungi makam’. Tetapi apa boleh buat, kami tahu apa yang kami lakukan. Sebaliknya, kami salah dan kurang bersyukur, kalo rasa bhakti dan rasa cinta kami harus berhenti sampai makam dan tulang belulang saja. Tidak…, rasa bhakti dan rasa cinta kami terhadap orang yang telah ‘ditakdirkan’ pernah hidup bersama kami tak kan pernah berhenti, bahkan ibarat sudah menjadi tulang-belulang yang berserakan dalam kubur pun, tetap akan kami pungut, kumpulkan dan kami rawat. Sejauh darah yang mengalir dalam diri ini adalah bagian dari dia , sejauh itu juga kami akan mengucap syukur bagi Tuhan Sang Empunya Hidup dan Mati, seraya berdoa bagi dia yang kini sudah di alam baka. “ Naik, naik ke puncak gunung. Tinggi-tinggi sekali. Kiri-kanan kulihat smua. Banyak pohon cemara. Kiri-kanan kulihat semua. Banyak pohon cemara”, begitulah kami berjalan mendaki bukit keluarga menuju ke tanah pemakaman di daerah lerengnya. Wuih, capek juga nich. Di Bandung tidak pernah olah raga, sementara di Nias harus langsung menaiki sebuah bukit. Weleh-weleh…, betis, paha dan pinggang kami nih yang rasanya setengah ampun. Apalagi saya mendaki sambil ngegendong Io. Habis, Io juga ingin ngeliat di mana kakeknya disemayamkan. Kira-kira kami sampai di pekuburan sekitar 15 menitlah. Sebuah kuburan keluarga yang luasnya kira-kira 15 x 6 m2, dan berpenghuni sekitar 6 atau 7 kerabat yang udah meninggal dan dikuburkan di situ. Kami bersih-bersih, sambil mereka menceritakan siapa nisan yang pertama, kedua, ketiga dan sebagainya. Termasuk bagaimana mereka sewaktu mereka masih hidup. Menarik, dan sangat senang saya mendengarnya. Yang tidak kalah menariknya, kedatangan kami bak disambut oleh harumnya bunga kamboja. Padahal nich, saya tidak bermaksud nakut-nakutin, di sekitar makam itu tidak ada pohon kamboja. Dari mana ada harum bau kamboja? Yahhh.., kami ambil hikmah positifnya aja bahwa kedatangan kami disambut dengan baik. “ Pa, kakeknya Io di mana. Kok ngak ada. Kakek Io udah mati?”, tanya Dibyo. “ Itu rumah kakek Io, jauhhh di dalam sana kakek Io beristirahat”, jawabku sambil mengarahkan telunjukku ke arah gundukan batu yang paling ujung. “ Di dalam sana kakek Io sama siapa? Ada temennya enggak? Kasian dong kalo ngak ada temennya”, tanyanya kembali. “ Wow, kakek di dalam sana tidak sendirian, tetapi banyak temennya. Ada Tuhan Yesus, ada Santa Maria, ada Santo Yosef, Santa Theresia, ada para Malaikat dan Malaikat Agung dan bersama penghuni surga lainnya”, begitu saya menjawabnya. Yeach…, kami harus segera turun bukit nich, rencana kami dari Bandung yang penting udah kami laksanakan. “ Menengok makam papa”. Ini hari pertama kami di Nias.

Bersambung….

Jumat, 18 Januari 2008

O, TANÖ NIHA…!!!

PERJALANAN KE NEGERI LANGIT LAPIS SEMBILAN (2)

Note: Sabar ya, aku ini orang ‘gajian’. Karena terima gaji dari orang lain itulah, maka aku kan ngak bisa suka-suka, kan? Mimpi sih, bisa ngaji diri sendiri, tapi itu belum menjadi kenyataan…doain yack!! So, harus cari celah di sela-sela kesibukan harianku. Ada celah waktu sedikit aja…, pasti aku gunakan untuk corat-coret ‘sak udelku dhewe. Rak yo apik to, daripada ngerumpi ngalor-ngidul ngak ada juntrungnya. O iya, NROCOS terus, kapan ceritanya….?!!


MEDAN-NIAS

Wah, kemarin sampai mana ya? Ntar yah, aku inget-inget dulu (udah agak-agak pikun,nich..). Nah, inget nih sekarang. Polonia-Medan…, naik taxi ke rumah saudara istriku yang di Medan…terakhir sampai di rumah dan tidur di sana,ya?!!! Ok, so pasti kami sangat lelah. Bayangin saja dari Bandung ke Jakarta, dari Jakarta sampai ke Medan. Wuih, jarak sejauh itu…pasti capeklah, yaw. Makanya, begitu sampai kami bersih-bersih badan (mandi maksud saya), ngasih makan bubur Haga, main sebentar sambil nyuapin Dibyo, sesudahnya gantian kami yang makan dan ‘bleg’… kami semua tertidur lelap tanpa mimpi. Tapi sebelum berangkat bubuk, kami dah sepakat bahwa esok hari akan bangun pkl. 04.00 WIB. Hihhh, ngebayangin dinginnya ngueri juga. Tapi apa boleh buat, ngurus anak-anak sebelum keberangkatan ini yang memakan waktu panjang, belum mbaliknya ke Bandara Polonia . Sementara pesawat yang akan kami tumpangi ke Bandara Binaka Nias berangkat Pkl. 06.30 Wib.

“Kukuruyuk…kukuruyuk…kukuruyukkkkk…”, begitulah ayam jantan berkokok. Ntar.., inget pelajaran membaca SD kelas 1? Artinya, hari sudah pagi. “Io, Iooo…bangun Sayang, hari udah pagi, ayuk kita lanjutin perjalanan ke rumah nenek”, begitu kami ngebangunin Dibyo. Sekali, dua kali, tiga kali tidak mempan, akhirnya kami harus berkali kali sampai dia terbangun. “ eit,eit,eitt…kok bobok lagi! Bangun Sayang, kita harus cepat, nenek udah nungguin Io sama Dede Haga dari tadi”, begitu pinta kami. Yah, tampaknya dia kecapean. Habis saking semangatnya, kemarin dari Bandung sampai Bandara Polonia maunya narikin koper-koper seberat kurang lebih 35kg. ‘Terasa pegal semua kali ya”, begitu pikirku. Seperti biasa, begitu bangun kami selalu meminta Dibyo untuk berdoa terlebih dulu, bersyukur atas istirahat semalaman dan mohon berkat untuk hari yang baru. “Ayo kita mandi, ayo, ayo…wah, airnya tidak terlalu dingin loch, segar lagi…”, begitu bersemangatnya kami untuk segera berangkat ke Bandara Polonia menuju Bandara Binaka Nias.

“Baya, Tante…kami terima kasih banyak atas sambutan dan tumpangannya sehingga kami dapat istirahat dan meneruskan perjalanan ke Nias dengan kondisi yang jauh lebih segar”, begitu kurang lebih kalimat yang kami sampaikan kepada empunya rumah. O iya, baya itu Bahasa Nias yang padanan bahasa kita ‘om’. Om-nya Tante maksud saya, bukan ‘Omplong’. Begitulah, kira-kira pkl. 05.30 Wib kami berangkat ke Bandara Polonia setelah segala sesuatunya siap. Dibyo, yang tadinya susah bangun, sekarang udah kelihatan segar, dan nampak cakep dengan kemeja warna coklat keabu-abuan ala USA ARMY. “Siap, siap..ok, kita berangkat !”, begitu saya pastikan segala sesuatunya. Sepanjang perjalanan, sepi-sepi aja karena mobil yang dipakai nganter kami sepertinya tidak dilengkapi dengan tape mobil. Kami semacam sepakat untuk diam, menikmati keindahan sepanjang jalan protocol Medan yang masih lengang, sambil menikmati kesegaran pagi yang ditawarkan kota Medan. Lumayan jauh juga jarak antara rumah yang kami tumpangi dengan Bandara Polonia Medan. Yah, kira-kira setengah jam perjalananlah. Kaloupun lebih ya paling hanya selisih beberapa menit. Tepat pukul 06.00 Wib, kami sampai di Bandara.

Tengok kiri-tengok kanan lazimnya orang kebingungan, kami mencari seseorang yang janji membeliin tiket untuk keberangkatan pagi ini. Tapi kok ngak nongol-nongol batang hidungnya. Biasa, namanya juga calo pasti masih sibuk dengan client-nya yang lain. Kata baya sih, dia itu orangnya baik, tidak terlalu ngambil untung dan orang Nias juga. Sebenarnya antara mau dan ngak mau sih, tapi ngak enak juga kalo kami tolak. Ntar kirain yang bukan-bukan. Enakan beli langsung kalo kami pikir-pikir. Tapi ya udahlah, yang penting kami sampai di Nias dengan selamat dan dapat berjumpa dengan Mama dan keluarga yang lain. Tidak selang beberapa lama, datanglah orang yang kami carai, berteriak sambil berkata: “check-in barang…, check-in barang!!”. Setelah check-in beres, harga tiket kami berikan kepada calo tersebut, kami akhirnya menuju ke ruang tunggu. Kira-kira waktu sudah nunjukin pkl. 06.15 Wib. Baru saja kami duduk, pihak Bandara Polonia sudah mengumumkan bahwa pesawat SMAC tujuan Bandara Binaka Nias segera akan diberangkatkan dan seluruh penumpang diharapkan masuk. Wah, syukurlah..makin cepat makin baik. Dibyo juga udah ngak sabaran mau naikin pesawat SMAC.

“Liat-liat Papa ,liat Mama...pesawatnya udah mau jalan!”, begitu Dibyo berteriak manakala pesawat mau persiapan untuk ‘take-off’. Wah, luar biasa indahya…terbang di antara awan-awan. Dan betul juga kata pepatah, “di atas langit ada langit”. Yah, langit berlapis-lapis kali ya…lapis sembilan kata orang Nias. Ngak tahu nih, pesawat ini udah tembus langit yang keberapa ya? Satu, dua, tiga…tetapi yang jelas belum sampai lapisan langit yang kesembilan. Aduh, kok ada tiba-tiba kulit saya terasa tertusuk benda tajam. Periksa demi periksa, O…, bukan benda tajam ternyata. Tapi kutu busuk (orang Jawa bilangnya ‘tinggi’. Bukan tinggi-tinggi sekali, tetapi kutu busuk maksudnya). ‘Liat,liat Papa…, liat Mama, ada kutu. Matiin cepat. Ionya takut”, teriakan Dibyo yang ketakutan dengan binatang-binatang kecil semacam itu. Yah, terpaksa dech, bukannya nikmati perjalanan bersama awan , tetapi nikmati perjalanan dengan kutu busuk. “itu-itu liat Mama, ada daratan di bawah sana, ada pohon-pohon kelapa”, lagi-lagi teriakan Dibyo yang sanngat dominan dalam ruang pesawat itu. Yah, payah dech orang lain yang mau nikmati perjalanan. Bisa-bisa terganggu dengan keributan-keributan yang dibuat Dibyo sepanjang perjalanan. Tetapi benar kata Dibyo, memang di kejaguan tampak hamparan daratan yang membentang hijau dan permai. “Nias itu”, tanyaku pada istriku. “Yah, rupanya sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara Binaka”, jawab istriku. “Syukurlah, mudah-mudahan kita dapat mendarat dengan selamat”, sambungku.

Tak lama kemudian…”horeee…kita udah mendarat di Bandara Binaka Nias dengan selamat. Ada semacam kebahagiaan yang sulit untuk kami ungkapkan “inilah Negeri Langit Lapis Sembilan itu”.

BERSAMBUNG...

Kamis, 17 Januari 2008

O, TANÖ NIHA…!!!

PERJALANAN KE NEGERI LANGIT LAPIS SEMBILAN (1)

Note: Dengan tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk membuat cerita fiktif sekelas ‘Puteri Selendang Biru’. Tetapi dengan tulisan ini, saya sekedar bermaksud untuk mengabadikan perjalan kami sekeluarga ke Tano Niha (Pulau Nias). Di Negeri yang terkenal dengan ‘hoho’/syairnya inilah, saya mendapat informasi bahwa selain hoho, di Tano Niha pun terdapat mitos yang sangat terkenal, yaitu mitos tentang Langit Lapis Sembilan. Terlepas mitosnya seperti apa, karena saya sendiri juga belum pernah mendengarnya secara lengkap, tetapi saya merasa bahwa Negeri Langit Lapis Sembilan dapat saya jadikan julukan untuk Tano Niha, bak Belanda dengan Negeri Kincir Anginnya atau Jepang dengan Sakura/Mata Hari Terbitnya. Negeri Langit Lapis Sembilan saya harapkan mampu mewakili rasa kagum saya terhadap potensi dan keindahan alam serta kekayaan khasanah budaya yang ada di sana.

BANDUNG-JAKARTA-MEDAN

Tanggal 29 Desember 2007, kira-kira pkl. 11.00 Wib, kami sekeluarga ( saya, istri, dan kedua anak saya yang masih kecil) bergegas meninggalkan Kota Bandung, dengan menggunakan Extrans Travel, menuju Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta). Lebih baik datang awal daripada terlambat, begitulah kira-kira prinsip kami sekeluarga. Dan sesuai yang kami rencanakan, kami pun tiba di bandara kira-kira pkl.14.30. Artinya, kami datang lebih awal beberapa jam dibandingkan jadwal penerbangan yang kami dapatkan dari maskapai Batavia Air (pkl. 18.15 Wib) tujuan Medan. Lumayan , ada cukup waktu bagi kami untuk beristirahat sebelum kami menuju ke Kota Medan, terlebih lagi ada cukup waktu untuk memperhatikan anak-anak agar tidak kena angin perjalanan nantinya. Juga yang menarik dan yang susah untuk tidak aku ceritakan, Yohanes Krisostomus Dibyo Yuwono (4th), anak kami yang pertama, begitu semangatnya ngangkutin barang-barang bawaan kami, yang untuk ukuran anak seusia itu tergolong besar dan berat, tetapi dia kuat dan penuh semangat. Begitu beraninya ia menyelinap masuk ke sana-kemari sambil membawa barang-barang, bahkan sapaan yang dilontarkan orang-orang yang mengagumi semangat dan kekuatannya pun tidak ia hiraukan lagi. Terus terang aku bangga dengan dia, tetapi pertanyaan saya waktu itu, akan tetap seperti itukah anak saya ? Oh…, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan buat dia. Sementara Gabriello Haga Gulidane (6 bln) juga tidak kalah menariknya, dia begitu gembira dan selalu tebar senyum kepada hampir semua orang yang menaruh perhatian kepadanya. Yah, mereka berdualah yang dapat melepaskan kami dari kegalauan yang sebenarnya turut mengiringi kepergian kami ke Nias.

Saat yang kami tunggu-tunggu pun tiba, pihak bandara mengumumkan bahwa sudah waktunya kami Check-in dan pesawat tidak lama lagi akan segera diberangkatkan. “Cepet Sayang, ayo cepat..!”, begitulah saya kasih semangat kepada Dibyo agar segera memasuki pesawat setelah check-in selesai kami lakukan. Ribut dan banyak pertanyaan yang aneh-aneh, itu sudah dapat aku bayangkan sebelumnya. Yang ini apa, yang itu apa, mengapa begini dan mengapa begitu, itulah pertanyaan-pertanyaan yang harus kami jawab sebelum pesawat ‘take-off’ sehingga petunjuk-petunjuk penerbangan yang disampaikan pramugari pun tidak dapat kami ikuti lagi. Untunglah ada pamflet-pamflet yang juga bisa kami baca, yang tersedia di belakang kursi duduk di depan kami. Walaupun begitu, kami tetap mengajak Dibyo untuk sejenak berdoa mohon keselamatan kepada Tuhan sebelum pesawat diberangkatkan. Andai harus tidak selamat pun, kami sudah melakukan yang terbaik , yaitu telah menyerahkan hidup dan mati kami sepenuhnya ke dalam tangan-Nya. Memang ngeri juga sih kalo terjadi ‘apa-apa’ di udara, apalagi kalo ingat ada informasi pesawatnya yang tualah, cuaca yang kurang baiklah, ada pesawat yang jatuhlah, yang itu semua akan menambah daftar panjang sebab pemicu rasa takut sebelum kita memutuskan untuk menaiki pesawat. Aneh juga ya bangsaku ini, sementara ada kecenderungan menyukai penerbangan, tetapi serentak dihinggapi penyakit ‘ketakutan’ untuk terbang. “Hei Papa-Papa, pesawatnya udah mulai jalan. Sebentar lagi terbang!”, begitu teriakan Dibyo yang nyaris seluruh penumpang dalam pesawat dapat mendengarnya. Dan begitulah, pesawat rupanya mulai persiapan ‘take-off’. Sementara sebagian besar penumpang sibuk dengan persiapan menutup mata, tetapi Dibyo justru sibuk memperlebar pintu penutup cendela pesawat. “ Lihat Papa, lihat Papa….!”, begitulah Dia mengekspresikan kekagumannya terhadap sesuatu disekitar yang dia lihat.

Wah, penerbangan dengan ketinggian 3.500 kaki rupanya cukup membuat kita sadar juga bahwa manusia bukanlah ‘apa-apa’ dibandingkan alam semesta, manusia masih lumayan dikatakan debu, padahal debu pun tidak. Begitu nyata bahwa daratan jauh lebih kecil dibandingkan dengan lautan. Sayang, karena penerbangan ini malam hari, sehingga patokan saya hanya satu, pada saat kerlap-kerlip di bawah hilang dan kita masuk ke kegelapan, itulah laut. Betul enggak sih, saya pun tidak tahu…,ini kan dugaan saya, ketinggian pesawat pun berpengaruh juga kan sehingga cahaya yang bertebaran dibawah tidak dapat terlihat lagi. Tetapi yang jelas, rasa dingin makin lama makin menusuk tulang. “ Aduh, tolong Dibyo diselimutin”, begitu pinta istriku. Kebetulan Haga sudah tertidur dari tadi di dekapan mamanya, sehingga kami dapat sedikit menghemat tenaga. Dan hampir sedikit lagi, Dibyo pun saya pastikan tertidur. Habis, ngak ada sesuatu yang menarik untuk dia lihat lagi. Lha wong gelap gulita… Situasi dipesawat pun berubah tenang dan hening, hanya raungan bunyi pesawat dan goncangan-gonjangan akibat cuaca yang kurang baiklah yang dapat kami dengar dan kami rasakan. “ngrokkkkk….gerrrrr…..,ngrokkkkk……gerrrrr……, ngrokkkkk….gerrrr….”, semuanya tertidur. Sampai akhirnya, semua yang tertidur termasuk Dibyo, dikejutkan oleh pengumuman dari pihak pramugari yang menerangkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Polonia-Medan. Tepat pukul 20.00 WIB kami tiba di Medan dengan selamat.

Kami sekeluarga rencana menginap di Medan semalam, sebelum keesokan harinya kami melalanjutkan perjalanan lagi dari Medan ke Nias. Semalam di Cianjur sih sudah biasa, lain cerita dengan semalan di Medan, rasanya seperti apa sih? Tidak lama berselang, keluarga istri saya pun datang lengkap dengan taxi sewaan dan pengawal pribadi. Sepanjang jalan kami beramah-tamah lazimnya saudara yang baru bertemu setelah sekian lama berpisah. Tetapi yang menarik, dan ini pengalaman langka buat saya, tidak pernah saya jumpai di Jawa, begitu saya masuk ke dalam taxi, kami disambut dengan lagu Ave Maria. “ Ave Maria. Gratia plena. Maria Gratia Plena. Maria Gratia Plena. Ave, Ave Dominus. Dominus tecum. Benedictatu in mulieribus, et bennedictus. Et bennedictus fructus ventris. Ventris tui Jesu”, wow terasa di Belgia. Dan yang juga menarik, sepanjang jalan banyak kami temukan pedagang buah durian. Dan konon informasinya, durian di Medan murah loh…waw, alangkah lezatnya! Tetapi kami cukup menelan air liur saja lantaran masih ada hari esok pikir kami. Yang penting kami sampai dulu di rumah tujuan, ngebersihin badan, makan dan kalo masih ada waktu tersisa ‘mlaku-mlaku’ kata orang Jawa. Saat yang kami nantikan pun tiba dan sampailah kami di rumah tujuan. Ya udah, kami pun beristirahat semalem di Medan. Dan bocoran saja, semalem di Cianjur dg semalem di Medan, tidak jauh beda loch!

BERSAMBUNG.....