Kamis, 17 Januari 2008

O, TANÖ NIHA…!!!

PERJALANAN KE NEGERI LANGIT LAPIS SEMBILAN (1)

Note: Dengan tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk membuat cerita fiktif sekelas ‘Puteri Selendang Biru’. Tetapi dengan tulisan ini, saya sekedar bermaksud untuk mengabadikan perjalan kami sekeluarga ke Tano Niha (Pulau Nias). Di Negeri yang terkenal dengan ‘hoho’/syairnya inilah, saya mendapat informasi bahwa selain hoho, di Tano Niha pun terdapat mitos yang sangat terkenal, yaitu mitos tentang Langit Lapis Sembilan. Terlepas mitosnya seperti apa, karena saya sendiri juga belum pernah mendengarnya secara lengkap, tetapi saya merasa bahwa Negeri Langit Lapis Sembilan dapat saya jadikan julukan untuk Tano Niha, bak Belanda dengan Negeri Kincir Anginnya atau Jepang dengan Sakura/Mata Hari Terbitnya. Negeri Langit Lapis Sembilan saya harapkan mampu mewakili rasa kagum saya terhadap potensi dan keindahan alam serta kekayaan khasanah budaya yang ada di sana.

BANDUNG-JAKARTA-MEDAN

Tanggal 29 Desember 2007, kira-kira pkl. 11.00 Wib, kami sekeluarga ( saya, istri, dan kedua anak saya yang masih kecil) bergegas meninggalkan Kota Bandung, dengan menggunakan Extrans Travel, menuju Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta). Lebih baik datang awal daripada terlambat, begitulah kira-kira prinsip kami sekeluarga. Dan sesuai yang kami rencanakan, kami pun tiba di bandara kira-kira pkl.14.30. Artinya, kami datang lebih awal beberapa jam dibandingkan jadwal penerbangan yang kami dapatkan dari maskapai Batavia Air (pkl. 18.15 Wib) tujuan Medan. Lumayan , ada cukup waktu bagi kami untuk beristirahat sebelum kami menuju ke Kota Medan, terlebih lagi ada cukup waktu untuk memperhatikan anak-anak agar tidak kena angin perjalanan nantinya. Juga yang menarik dan yang susah untuk tidak aku ceritakan, Yohanes Krisostomus Dibyo Yuwono (4th), anak kami yang pertama, begitu semangatnya ngangkutin barang-barang bawaan kami, yang untuk ukuran anak seusia itu tergolong besar dan berat, tetapi dia kuat dan penuh semangat. Begitu beraninya ia menyelinap masuk ke sana-kemari sambil membawa barang-barang, bahkan sapaan yang dilontarkan orang-orang yang mengagumi semangat dan kekuatannya pun tidak ia hiraukan lagi. Terus terang aku bangga dengan dia, tetapi pertanyaan saya waktu itu, akan tetap seperti itukah anak saya ? Oh…, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan buat dia. Sementara Gabriello Haga Gulidane (6 bln) juga tidak kalah menariknya, dia begitu gembira dan selalu tebar senyum kepada hampir semua orang yang menaruh perhatian kepadanya. Yah, mereka berdualah yang dapat melepaskan kami dari kegalauan yang sebenarnya turut mengiringi kepergian kami ke Nias.

Saat yang kami tunggu-tunggu pun tiba, pihak bandara mengumumkan bahwa sudah waktunya kami Check-in dan pesawat tidak lama lagi akan segera diberangkatkan. “Cepet Sayang, ayo cepat..!”, begitulah saya kasih semangat kepada Dibyo agar segera memasuki pesawat setelah check-in selesai kami lakukan. Ribut dan banyak pertanyaan yang aneh-aneh, itu sudah dapat aku bayangkan sebelumnya. Yang ini apa, yang itu apa, mengapa begini dan mengapa begitu, itulah pertanyaan-pertanyaan yang harus kami jawab sebelum pesawat ‘take-off’ sehingga petunjuk-petunjuk penerbangan yang disampaikan pramugari pun tidak dapat kami ikuti lagi. Untunglah ada pamflet-pamflet yang juga bisa kami baca, yang tersedia di belakang kursi duduk di depan kami. Walaupun begitu, kami tetap mengajak Dibyo untuk sejenak berdoa mohon keselamatan kepada Tuhan sebelum pesawat diberangkatkan. Andai harus tidak selamat pun, kami sudah melakukan yang terbaik , yaitu telah menyerahkan hidup dan mati kami sepenuhnya ke dalam tangan-Nya. Memang ngeri juga sih kalo terjadi ‘apa-apa’ di udara, apalagi kalo ingat ada informasi pesawatnya yang tualah, cuaca yang kurang baiklah, ada pesawat yang jatuhlah, yang itu semua akan menambah daftar panjang sebab pemicu rasa takut sebelum kita memutuskan untuk menaiki pesawat. Aneh juga ya bangsaku ini, sementara ada kecenderungan menyukai penerbangan, tetapi serentak dihinggapi penyakit ‘ketakutan’ untuk terbang. “Hei Papa-Papa, pesawatnya udah mulai jalan. Sebentar lagi terbang!”, begitu teriakan Dibyo yang nyaris seluruh penumpang dalam pesawat dapat mendengarnya. Dan begitulah, pesawat rupanya mulai persiapan ‘take-off’. Sementara sebagian besar penumpang sibuk dengan persiapan menutup mata, tetapi Dibyo justru sibuk memperlebar pintu penutup cendela pesawat. “ Lihat Papa, lihat Papa….!”, begitulah Dia mengekspresikan kekagumannya terhadap sesuatu disekitar yang dia lihat.

Wah, penerbangan dengan ketinggian 3.500 kaki rupanya cukup membuat kita sadar juga bahwa manusia bukanlah ‘apa-apa’ dibandingkan alam semesta, manusia masih lumayan dikatakan debu, padahal debu pun tidak. Begitu nyata bahwa daratan jauh lebih kecil dibandingkan dengan lautan. Sayang, karena penerbangan ini malam hari, sehingga patokan saya hanya satu, pada saat kerlap-kerlip di bawah hilang dan kita masuk ke kegelapan, itulah laut. Betul enggak sih, saya pun tidak tahu…,ini kan dugaan saya, ketinggian pesawat pun berpengaruh juga kan sehingga cahaya yang bertebaran dibawah tidak dapat terlihat lagi. Tetapi yang jelas, rasa dingin makin lama makin menusuk tulang. “ Aduh, tolong Dibyo diselimutin”, begitu pinta istriku. Kebetulan Haga sudah tertidur dari tadi di dekapan mamanya, sehingga kami dapat sedikit menghemat tenaga. Dan hampir sedikit lagi, Dibyo pun saya pastikan tertidur. Habis, ngak ada sesuatu yang menarik untuk dia lihat lagi. Lha wong gelap gulita… Situasi dipesawat pun berubah tenang dan hening, hanya raungan bunyi pesawat dan goncangan-gonjangan akibat cuaca yang kurang baiklah yang dapat kami dengar dan kami rasakan. “ngrokkkkk….gerrrrr…..,ngrokkkkk……gerrrrr……, ngrokkkkk….gerrrr….”, semuanya tertidur. Sampai akhirnya, semua yang tertidur termasuk Dibyo, dikejutkan oleh pengumuman dari pihak pramugari yang menerangkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Polonia-Medan. Tepat pukul 20.00 WIB kami tiba di Medan dengan selamat.

Kami sekeluarga rencana menginap di Medan semalam, sebelum keesokan harinya kami melalanjutkan perjalanan lagi dari Medan ke Nias. Semalam di Cianjur sih sudah biasa, lain cerita dengan semalan di Medan, rasanya seperti apa sih? Tidak lama berselang, keluarga istri saya pun datang lengkap dengan taxi sewaan dan pengawal pribadi. Sepanjang jalan kami beramah-tamah lazimnya saudara yang baru bertemu setelah sekian lama berpisah. Tetapi yang menarik, dan ini pengalaman langka buat saya, tidak pernah saya jumpai di Jawa, begitu saya masuk ke dalam taxi, kami disambut dengan lagu Ave Maria. “ Ave Maria. Gratia plena. Maria Gratia Plena. Maria Gratia Plena. Ave, Ave Dominus. Dominus tecum. Benedictatu in mulieribus, et bennedictus. Et bennedictus fructus ventris. Ventris tui Jesu”, wow terasa di Belgia. Dan yang juga menarik, sepanjang jalan banyak kami temukan pedagang buah durian. Dan konon informasinya, durian di Medan murah loh…waw, alangkah lezatnya! Tetapi kami cukup menelan air liur saja lantaran masih ada hari esok pikir kami. Yang penting kami sampai dulu di rumah tujuan, ngebersihin badan, makan dan kalo masih ada waktu tersisa ‘mlaku-mlaku’ kata orang Jawa. Saat yang kami nantikan pun tiba dan sampailah kami di rumah tujuan. Ya udah, kami pun beristirahat semalem di Medan. Dan bocoran saja, semalem di Cianjur dg semalem di Medan, tidak jauh beda loch!

BERSAMBUNG.....

Tidak ada komentar: