
Konsep kebenaran objektivitas berhubungan juga dengan suatu teori korespondensi. Suatu teori korespondensi tentang kebenaran menyatakan bahwa pernyataan harus sesuai dengan kenyataan.Pernyataan ini hanya mempunyai makna kalau pernyataan-pernyataan merepresentasikan objek pengalaman yang adalah sesuatu yang ada dalam dunia. Suatu teori korespondensi menyangkal dirinya sendiri. Jika kita tidak dapat menganggap arti-arti yang lain dari term tentang “realitas”, maka kita berhubungan dengan pernyataan tentang kenyataan-kenyataan, dan jika kemudian melihat dunia sebagai totalitas fakta, maka korespondensi antara pernyataan-pernyataan dengan realitas pada gilirannya hanya dibatasi oleh pernyataan-pernyataan.
Kenyataan-kenyataan dikemukakan dalam bidang diskursus hanya ketika suatu klaim validitas dihubungkan dengan suatu pernyataan menjadi topik pemikiran (reasoning). Dalam konteks tindakan-tindakan, kita memahami objek-objek pengalaman kita dan dalam konteks tindakan itu suatu pernyataan berfungsi sebagai suatu informasi tentang suatu pengalaman akan objek-objek apakah objektif atau subjektif. Dalam diskursus, suatu pernyataan berfungsi sebagai suatu ‘statement’ dengan suatu klaim validitas yang problematic, apakah benar atau tidak benar. Dalam konteks-konteks tindakan, saya bisa jadi keliru dalam pengalaman saya akan objek-objek. Dalam diskursus, saya benar atau salah berhubungan dengan klaim validitas yang dinyatakan.
Fakta-fakta adalah pernyataan-pernyataan proporsional. Pemikiran tentang objek-objek tidak sama dengan pengalaman-pengalaman atau observasi atas objek-objek. Bagaimanapun juga, seseorang mengacu pada pengalaman dalam konteks argumentasi. Tetapi, acuan pada pengalaman yang metodologis, misalnya dalam suatu eksperimen tetap tergantung pada interpretasi-interpretasi, hanya kelihatan jadi valid dalam diskursus. Pengalaman hanya dapat menyokong klaim kebenaran dari suatu pernyataan dalam diskursus. Kita bergantung pada pernyataan sejauh tidak ada pengalaman-pengalaman paksaan. Tetapi, suatu klaim kebenaran hanya dapat divalidasi oleh argumen-argumen. Suatu klim yang didasarkan atas pengalaman adalah dengan tidak mengartikan sebagai suatu klaim yang ditemukan dalam argumen-argumen. Kita mengatakan bahwa informasi dapat dipercaya atau tidak dapat dipercaya. Kita dapat mengukur realibilitas (hal dapat dipercaya) dengan probabilitas keyakinan-keyakinan atau pengharapan-pengharapan ketika hal itu terpenuhi. Tetapi, kebenaran tidak berkarakter informatikal, tetapi suatu pernyataan. Suatu pernyataan itu benar ketika pernyataan itu didasarkan atas pemikiran (reason) yang meyakinkan. Kondisi yang ditemukan adalah persetujuan yang potensial terhadap semua yang lain. Kebenaran suatu proposisi menunjukkan “janji” untuk mencapai consensus rasional.
Habermas juga menolak suatu konsep yang subjektivistik. Suatu konsep kebenaran dalam mana kepastian personal terhadap suatu pengalaman langsung dikatakan sebagai kebenaran. Sebagai suatu pengalaman tentang kepastian bisa didasarkan atas pemikiran (sense), tetapi ketika saya menggunakan pikiran-pikiran saya, perasaan, penciuman, pendengaran, atau penglihatan, persepsi tidak dapat, dalam dirinya sendiri dipandang sebagai suatu validitas.Bagi Habermas, klaim validitas itu hanya ketika saya membuat suatu tentang persepsi-persepsi saya bahwa saya membuat suatu klaim validitas. Saya tidak mengklaim bahwa sensasi memberikan saya kepastian. Karena itu, ada banyak klaim validitas yang tidak disertai oleh persepsi-persepsi saya bahwa saya membuat suatu klaim validitas. Saya tidak mengklaim bahwa sensasi memberikan saya kepastian. Karena itu, ada banyak klaim validitas yang tidak disertai oleh persepsi-persepsi sensoris tentang kepastian. Ketika saya mengetahui sesuatu atau ketika saya yakin tentang sesuatu, kepastian saya tidak harus didasarkan atas persepsi. Pengetahuan yang pasti dan suatu keyakinan yang solid hanya dapat didasarkan atas pemikiran-pemikiran yang dapat saya tawarkan pada counter-argumen yang lemah. Kepastian-kepastian hanya dapat didasarkan atas argumen-argumen, meskipun tentunya pendapat atau keputusan didasarkan atas persepsi-persepsi yang dapat dipakai dalam suatu argumen yang khusus. Pengetahuan hanya dapat didasarkan secara tak langsung atas persepsi-persepsi sensoris.
Kepastian juga dapat didasarkan atas suatu kepercayaan atau keyakinan. Kepastian kemudian didasarkan atas suatu interaksi dalam mana orang yang dipercayai telah terbukti benar. Suatu kepastian “keyakinan” tergantung atas suatu pengalaman dalam komunikasi. Bagi Habermas, kebenaran hanya dapat dihubungkan dengan rasio, bukan dengan kepercayaan atau keyakinan.Kebenaran (truth) dan ketepatan (rightness) tidak perlu didasarkan atas sensoris langsung atau kepercayaan begitu saja. Seseorang mengetahui sesuatu tentang suatu objek pengalaman hanya ketikadia menerima klaim kebenaran dari suatu pernyataan. Pengetahuan hanya mungkin ketika keputusan-keputusan (kritisisme atau justifikasi) itu mungkin. Seseorang yakin akan kebenaran sebagai suatu norma hanya ketika dia menerima klaim validitas dari kaidah-kaidah yang relevan.Seseorang percaya orang lain ketika dia melihat ketulusan hati orang tersebut. Ketika saya mengerti, mengetahui, percaya, kemudian saya pastikan, tetapi “kepastian-kepastian” itu berbeda dari kepastian-kepastian yang dilukiskan dengan jelas. Klaim-klaim validitas adalah intersubjektif. Suatu pengalaman konvidensi (kepercayaan) bukan pengalaman yang menetapkan basis kebenaran, kemudian suatu pernyataan bisa jadi benar untuk satu orang. Kepastian tentang sesuatu juga mungkin ada hanya bersifat subjektif. Tentu beberapa subjek telah membagikan kepastian sesuatu yang diobservasi, tetapi kemudian mereka akan harus mengatakannya dan membuat suatu pernyataan. Karena itu, mereka akan membuat suatu klaim tentang validitas, untuk ‘dicek’ secara intersubjektif. Kepastian akan selalu tetap suatu ekspresi subjektif, meskipun hal itu bisa jadi bahwa suatu pengalaman membangkitkan suatu persoalan tentang suatu klaim yang dipaksakan khusus atas validitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar