Jumat, 18 Januari 2008

O, TANÖ NIHA…!!!

PERJALANAN KE NEGERI LANGIT LAPIS SEMBILAN (2)

Note: Sabar ya, aku ini orang ‘gajian’. Karena terima gaji dari orang lain itulah, maka aku kan ngak bisa suka-suka, kan? Mimpi sih, bisa ngaji diri sendiri, tapi itu belum menjadi kenyataan…doain yack!! So, harus cari celah di sela-sela kesibukan harianku. Ada celah waktu sedikit aja…, pasti aku gunakan untuk corat-coret ‘sak udelku dhewe. Rak yo apik to, daripada ngerumpi ngalor-ngidul ngak ada juntrungnya. O iya, NROCOS terus, kapan ceritanya….?!!


MEDAN-NIAS

Wah, kemarin sampai mana ya? Ntar yah, aku inget-inget dulu (udah agak-agak pikun,nich..). Nah, inget nih sekarang. Polonia-Medan…, naik taxi ke rumah saudara istriku yang di Medan…terakhir sampai di rumah dan tidur di sana,ya?!!! Ok, so pasti kami sangat lelah. Bayangin saja dari Bandung ke Jakarta, dari Jakarta sampai ke Medan. Wuih, jarak sejauh itu…pasti capeklah, yaw. Makanya, begitu sampai kami bersih-bersih badan (mandi maksud saya), ngasih makan bubur Haga, main sebentar sambil nyuapin Dibyo, sesudahnya gantian kami yang makan dan ‘bleg’… kami semua tertidur lelap tanpa mimpi. Tapi sebelum berangkat bubuk, kami dah sepakat bahwa esok hari akan bangun pkl. 04.00 WIB. Hihhh, ngebayangin dinginnya ngueri juga. Tapi apa boleh buat, ngurus anak-anak sebelum keberangkatan ini yang memakan waktu panjang, belum mbaliknya ke Bandara Polonia . Sementara pesawat yang akan kami tumpangi ke Bandara Binaka Nias berangkat Pkl. 06.30 Wib.

“Kukuruyuk…kukuruyuk…kukuruyukkkkk…”, begitulah ayam jantan berkokok. Ntar.., inget pelajaran membaca SD kelas 1? Artinya, hari sudah pagi. “Io, Iooo…bangun Sayang, hari udah pagi, ayuk kita lanjutin perjalanan ke rumah nenek”, begitu kami ngebangunin Dibyo. Sekali, dua kali, tiga kali tidak mempan, akhirnya kami harus berkali kali sampai dia terbangun. “ eit,eit,eitt…kok bobok lagi! Bangun Sayang, kita harus cepat, nenek udah nungguin Io sama Dede Haga dari tadi”, begitu pinta kami. Yah, tampaknya dia kecapean. Habis saking semangatnya, kemarin dari Bandung sampai Bandara Polonia maunya narikin koper-koper seberat kurang lebih 35kg. ‘Terasa pegal semua kali ya”, begitu pikirku. Seperti biasa, begitu bangun kami selalu meminta Dibyo untuk berdoa terlebih dulu, bersyukur atas istirahat semalaman dan mohon berkat untuk hari yang baru. “Ayo kita mandi, ayo, ayo…wah, airnya tidak terlalu dingin loch, segar lagi…”, begitu bersemangatnya kami untuk segera berangkat ke Bandara Polonia menuju Bandara Binaka Nias.

“Baya, Tante…kami terima kasih banyak atas sambutan dan tumpangannya sehingga kami dapat istirahat dan meneruskan perjalanan ke Nias dengan kondisi yang jauh lebih segar”, begitu kurang lebih kalimat yang kami sampaikan kepada empunya rumah. O iya, baya itu Bahasa Nias yang padanan bahasa kita ‘om’. Om-nya Tante maksud saya, bukan ‘Omplong’. Begitulah, kira-kira pkl. 05.30 Wib kami berangkat ke Bandara Polonia setelah segala sesuatunya siap. Dibyo, yang tadinya susah bangun, sekarang udah kelihatan segar, dan nampak cakep dengan kemeja warna coklat keabu-abuan ala USA ARMY. “Siap, siap..ok, kita berangkat !”, begitu saya pastikan segala sesuatunya. Sepanjang perjalanan, sepi-sepi aja karena mobil yang dipakai nganter kami sepertinya tidak dilengkapi dengan tape mobil. Kami semacam sepakat untuk diam, menikmati keindahan sepanjang jalan protocol Medan yang masih lengang, sambil menikmati kesegaran pagi yang ditawarkan kota Medan. Lumayan jauh juga jarak antara rumah yang kami tumpangi dengan Bandara Polonia Medan. Yah, kira-kira setengah jam perjalananlah. Kaloupun lebih ya paling hanya selisih beberapa menit. Tepat pukul 06.00 Wib, kami sampai di Bandara.

Tengok kiri-tengok kanan lazimnya orang kebingungan, kami mencari seseorang yang janji membeliin tiket untuk keberangkatan pagi ini. Tapi kok ngak nongol-nongol batang hidungnya. Biasa, namanya juga calo pasti masih sibuk dengan client-nya yang lain. Kata baya sih, dia itu orangnya baik, tidak terlalu ngambil untung dan orang Nias juga. Sebenarnya antara mau dan ngak mau sih, tapi ngak enak juga kalo kami tolak. Ntar kirain yang bukan-bukan. Enakan beli langsung kalo kami pikir-pikir. Tapi ya udahlah, yang penting kami sampai di Nias dengan selamat dan dapat berjumpa dengan Mama dan keluarga yang lain. Tidak selang beberapa lama, datanglah orang yang kami carai, berteriak sambil berkata: “check-in barang…, check-in barang!!”. Setelah check-in beres, harga tiket kami berikan kepada calo tersebut, kami akhirnya menuju ke ruang tunggu. Kira-kira waktu sudah nunjukin pkl. 06.15 Wib. Baru saja kami duduk, pihak Bandara Polonia sudah mengumumkan bahwa pesawat SMAC tujuan Bandara Binaka Nias segera akan diberangkatkan dan seluruh penumpang diharapkan masuk. Wah, syukurlah..makin cepat makin baik. Dibyo juga udah ngak sabaran mau naikin pesawat SMAC.

“Liat-liat Papa ,liat Mama...pesawatnya udah mau jalan!”, begitu Dibyo berteriak manakala pesawat mau persiapan untuk ‘take-off’. Wah, luar biasa indahya…terbang di antara awan-awan. Dan betul juga kata pepatah, “di atas langit ada langit”. Yah, langit berlapis-lapis kali ya…lapis sembilan kata orang Nias. Ngak tahu nih, pesawat ini udah tembus langit yang keberapa ya? Satu, dua, tiga…tetapi yang jelas belum sampai lapisan langit yang kesembilan. Aduh, kok ada tiba-tiba kulit saya terasa tertusuk benda tajam. Periksa demi periksa, O…, bukan benda tajam ternyata. Tapi kutu busuk (orang Jawa bilangnya ‘tinggi’. Bukan tinggi-tinggi sekali, tetapi kutu busuk maksudnya). ‘Liat,liat Papa…, liat Mama, ada kutu. Matiin cepat. Ionya takut”, teriakan Dibyo yang ketakutan dengan binatang-binatang kecil semacam itu. Yah, terpaksa dech, bukannya nikmati perjalanan bersama awan , tetapi nikmati perjalanan dengan kutu busuk. “itu-itu liat Mama, ada daratan di bawah sana, ada pohon-pohon kelapa”, lagi-lagi teriakan Dibyo yang sanngat dominan dalam ruang pesawat itu. Yah, payah dech orang lain yang mau nikmati perjalanan. Bisa-bisa terganggu dengan keributan-keributan yang dibuat Dibyo sepanjang perjalanan. Tetapi benar kata Dibyo, memang di kejaguan tampak hamparan daratan yang membentang hijau dan permai. “Nias itu”, tanyaku pada istriku. “Yah, rupanya sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara Binaka”, jawab istriku. “Syukurlah, mudah-mudahan kita dapat mendarat dengan selamat”, sambungku.

Tak lama kemudian…”horeee…kita udah mendarat di Bandara Binaka Nias dengan selamat. Ada semacam kebahagiaan yang sulit untuk kami ungkapkan “inilah Negeri Langit Lapis Sembilan itu”.

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar: