
PERJALANAN KE NEGERI LANGIT LAPIS SEMBILAN (3)
Note: Singkatnya kami sekeluarga udah sampai ke tempat tujuan ‘Negeri Langit Lapis Sembilan’ dengan selamat. Tetapi inilah bagian cerita yang sangat berat bagi kami. Bukan hanya rasa bahagia yang akhirnya kami rasakan, tetapi ‘tumpleg bleg’, campur-aduk tidak karuan. Bahagia ada, sedih ada, terharu ada, bahkan sampai perasaan takut pun muncul. ‘Tumpleg bleg’, campur aduk, semuanya ada intinya.
Sampai Bandara Binaka kami sempat kebingungan juga, nich. Kok belum ada keluarga yang ngejemput. Hubang-hubungin ke nomer-nomer penjemput ngak masuk ‘teu ayak sinyal’. Yah udahlah, kami tunggu sambil ngeliat-ngeliat seputar Bandara Binaka, ngobrol sana-sini dengan penumpang yang lain yang memiliki itikad baik untuk sekedar membagi keramahan dengan kami. “Bang, mau ke mana?”, tanya salah seorang Bapak kepadaku. Ngak biasa juga sih dipanggil ‘abang’, hari-hari kan dipanggil ‘mas’. “Oh, saya Pak. Saya mau ke…”, begitu saya kebingungan ngejawab pertanyaan Bapak itu. Saya hanya tahu ke Nias, tapi orang tua tinggal di Nias bagian mana, daerah apa kan saya ngak tahu. “ Say, mama teh bumina dimana?”, tanyaku sama istriku. “Di Lolo Moyo, Tuhemberua, Mas”, jawab istriku. Saya rasa bahasa sunda titik temu untuk ngatasin kebingungan saya. Nanya ke istri pakai bahasa Indonesia ketahuan sama bapak itu kalo aku ngak tahu rumah orang tua ‘malu donk’. Pakai Bahasa Jawa, istriku yang ngak tahu. Yah, amannya pakai Bahasa Sunda aja, dech. Antara aku dan istriku sama-sama tahu, dan yang penting nich, supaya Bapak itu ngak ngerti kalo aku sebenarnya ngak tahu daerah mamaku. Supaya aku tetap jadi manusia biasa dan bukan manusia ‘aneh’ di mata bapak itu. Eee.., ini mah strategi aja, tapi harus aku catat, lain kali hal-hal kayak ginian saya harus tau. “Oh, tadi nanyak apa,Pak?”, tanyaku seolah-olah tidak dengar pertanyaan bapak itu tadi. “ Abang mau pergi ke mana?”, jawab bapak itu. “Ooo…, kami mau ke Mama,Pak. Di Lolo Moyo, Tuhemberua”, jawabku. Wah, gawat.., hampir aja aku kelabakan bilang ‘Lolo Moyo’. “O…, Lolo Moyo, Tuhemberua”, sambung bapak itu. “Yah Pak, tapi kami lagi nunggu jemputan. Dari tadi menunggu kok ngak datang-datang. Kami hubungi ngak bisa sambung”, tambahku. “O…, kalo sinyal tidak masuk, berarti mereka ada dalam perjalanan ke sini. Ditunggu aja Bang”, kata bapak itu.
Sementara Dibyo sudah tidak sabar melihat rumah neneknya, tiba-tiba muncullah mobil warna biru laut, yang penumpang di dalamya udah tidak asing lagi bagi istriku. “ Itu adikku Mas, Ama Lucky!”, kata istriku. Syukurlah, penantian kami tidak sia-sia. Ama lucky datang bersama dengan istri dan satu anaknya “Muri”, beserta sopir. “Loh, kok sopir ini kayak orang Jawa juga. Kenapa nyasar di sini itu ‘orang’’, pikirku dalam hati. “Yah, namanya juga cari hidup, Mas. Beginilah, terdampar di mana-mana”, jawab Mas sopir itu saat aku tanya sejarahnya sampai ke Nias. Ternyata itu orang, bawaan Papa Sakhi dan Tante dari Palembang. Jawa yang hidup di Palembang gitu ceritanya. Sementara Dibyo dan mamanya masuk ke dalam mobil, saya dan yang lainnya memasukkan barang bawaan kami dan memastikan bahwa kami siap menuju ke Lolo Moyo, Tuhemberua. Kebahagiaan kedua anak kami mengiringi perjalanan kami itu. “Papa-Papa, mana rumahnya nenek, kok lama amat sih?”, tanya Dibyo padaku. “Sabar Io…, baru 10 menit udah bilang lama’, jawabku. Memang, perjalanan dari Bandara Binaka ke Tuhemberua kurang lebih memakan waktu 30 menit. Jalan raya yang tampak lengang (ngak kayak Bandung yang muacet-cet), jalan yang berlekuk, pepohonan yang menghijau dan yang menarik perhatian saya, banyak ibu-ibu dan anak-anak kecil tampak sibuk bekerja di kebun-kebun milik mereka sepanjang perjalanan yang kami lalui. Ngak tahu ya, ini kebetulan ataukah memang seperti itu etos kerja di Nias. Ibu-Ibu dan anak-anak yang dominan kelihatan di kebun-kebun mereka. Bapak-Bapaknya ke mana ya? Ok, mungkin itu hanyalah kebetulan saja di hari itu. “Papa-papa, laut…, itu lautttt..!”, teriakan Dibyo secara tiba-tiba. Memang, pulau ini begitu nyata dikelilingi oleh lautan. Maklum Dibyo tidak pernah melihat laut selama ini selain dari tv. Habis, di Padalarang laut tidak ada, yang ada hanyalah gunung. Maka setiap kali lihat laut ‘histeris-lah’ dia. Dan yang menarik, disepanjang jalan terdapat panggung-pabnggung kecil yang nanti akan mereka pakai untuk menjajakan ikan hasil tangkapan dari laut. Tetapi sepertinya kami udah kesiangan sehingga tinggal tempatnya saja, sementara ikan dan pedagangnya udah tidak ada lagi. “ Ya udahlah kalo gitu, kita langsung pulang dulu aja. Biar mereka istirahat dulu dan biar berjumpa dengan mama dulu. Belinya ikan nanti sore saja. Sekarang juga udah kesiangan”, begitu kata Ama Lucky. Akhirnya pencarian ikan kami tanguhkan dan langsung kita menuju rumah. Memang, sepertinya mereka dari rumah membawa misi agar jemput sekalian beli ikan. Ya udahlah, lagian kami udah tidak sabar untuk bertemu dengan mama di rumah.
Tidak lama kemudian sampailah kami di rumah Mama. Wow, rumah itu sangat indah posisinya, ada diatas jalan dan bertrap tiga, bangunan satu, bangunan dua dan bangunan tiga. Tampak ramai sih jelas, karena mama tinggal bersama 2 anaknya, Ama Lucky dengan Ina Lucky berikut Lucky dan Muri-nya, Ama Cleo dengan Ina Cleo dan Cleonya, serta yang dekat-dekat dengan situ Ama Hengky dengan Ina Hengky, berikut Hengky dan Teguh (wah.., Teguh, kayak nama orang Jawa saja) yang saya rasa juga turut meramaikan rumah itu dari hari ke hari. Apalagi Papa Sakhi Palembang dan keluarga kan udah duluan di rumah mama. “Hallo, bagaimana perjalanannya?”, begitulah mereka sapa kami begitu melihat kami turun dari mobil jemputan. “Wah, sangat menyenangkan”, begitu jawaban istriku. “Ayuk, kalian langsung aja makan”, kata mama. Wah, begitu denger makan, langsung pikiran saya ke ‘benda haram’ itu ‘ada ngak ya”. Begitu sampai di meja makan, saya langsung lirik ke kiri dan lirik ke kanan, sampai akhirnya ketemu juga yang aku cari ‘benda haram’. “Asyiklah, haram teu naon-naon, yang penting nikmatttt…”, begitu pikirku dalam hati. Kami akhirnya asyik makan sambil cerita ke sana kemari, entah tentang Bandung, entah tentang anak-anak di perjalanan, entah tentang Nias yang dulu dan sekarang dan sebagainya dan sebagainya. Tetapi satu hal yang sudah kami tetapkan sebelum kami berangkat ke Nias, hari pertama kami di Nias, kami akan menengok makam keluarga. Di sanalah, ‘leluhur’ istri saya di makamkan termasuk ayahandanya. Yah, mungkin ini tindakan kami yang controversial juga ‘mengunjungi makam’. Tetapi apa boleh buat, kami tahu apa yang kami lakukan. Sebaliknya, kami salah dan kurang bersyukur, kalo rasa bhakti dan rasa cinta kami harus berhenti sampai makam dan tulang belulang saja. Tidak…, rasa bhakti dan rasa cinta kami terhadap orang yang telah ‘ditakdirkan’ pernah hidup bersama kami tak kan pernah berhenti, bahkan ibarat sudah menjadi tulang-belulang yang berserakan dalam kubur pun, tetap akan kami pungut, kumpulkan dan kami rawat. Sejauh darah yang mengalir dalam diri ini adalah bagian dari dia , sejauh itu juga kami akan mengucap syukur bagi Tuhan Sang Empunya Hidup dan Mati, seraya berdoa bagi dia yang kini sudah di alam baka. “ Naik, naik ke puncak gunung. Tinggi-tinggi sekali. Kiri-kanan kulihat smua. Banyak pohon cemara. Kiri-kanan kulihat semua. Banyak pohon cemara”, begitulah kami berjalan mendaki bukit keluarga menuju ke tanah pemakaman di daerah lerengnya. Wuih, capek juga nich. Di Bandung tidak pernah olah raga, sementara di Nias harus langsung menaiki sebuah bukit. Weleh-weleh…, betis, paha dan pinggang kami nih yang rasanya setengah ampun. Apalagi saya mendaki sambil ngegendong Io. Habis, Io juga ingin ngeliat di mana kakeknya disemayamkan. Kira-kira kami sampai di pekuburan sekitar 15 menitlah. Sebuah kuburan keluarga yang luasnya kira-kira 15 x 6 m2, dan berpenghuni sekitar 6 atau 7 kerabat yang udah meninggal dan dikuburkan di situ. Kami bersih-bersih, sambil mereka menceritakan siapa nisan yang pertama, kedua, ketiga dan sebagainya. Termasuk bagaimana mereka sewaktu mereka masih hidup. Menarik, dan sangat senang saya mendengarnya. Yang tidak kalah menariknya, kedatangan kami bak disambut oleh harumnya bunga kamboja. Padahal nich, saya tidak bermaksud nakut-nakutin, di sekitar makam itu tidak ada pohon kamboja. Dari mana ada harum bau kamboja? Yahhh.., kami ambil hikmah positifnya aja bahwa kedatangan kami disambut dengan baik. “ Pa, kakeknya Io di mana. Kok ngak ada. Kakek Io udah mati?”, tanya Dibyo. “ Itu rumah kakek Io, jauhhh di dalam sana kakek Io beristirahat”, jawabku sambil mengarahkan telunjukku ke arah gundukan batu yang paling ujung. “ Di dalam sana kakek Io sama siapa? Ada temennya enggak? Kasian dong kalo ngak ada temennya”, tanyanya kembali. “ Wow, kakek di dalam sana tidak sendirian, tetapi banyak temennya. Ada Tuhan Yesus, ada Santa Maria, ada Santo Yosef, Santa Theresia, ada para Malaikat dan Malaikat Agung dan bersama penghuni surga lainnya”, begitu saya menjawabnya. Yeach…, kami harus segera turun bukit nich, rencana kami dari Bandung yang penting udah kami laksanakan. “ Menengok makam papa”. Ini hari pertama kami di Nias.
Bersambung….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar