Sabtu, 06 Desember 2007
Terpaksa menunggu di depan Kota Baru Parahyangan sampai batas waktu yang aku tidak tahu, akhirnya itulah yang harus terjadi. Yah maklumlah, sudah menjadi kebiasaan sebelum berangkat, Mas Danang (Driver Perusahaan) sudah dapat dipastikan harus bolak-balik terlebih dahulu untuk ngumpulin barang-barang titipan untuk outlet di luar kota (efektifitas & efisiensi tentunya). Tetapi apapun alasannya, aku juga kan manusia, menunggu tetap rumus yang membosankan bagiku. Bagaimana tidak, lha wong aku udah stand-by di depan Kota Baru Parahyangan sejak pkl.07.00 WIB. Sementara suhu bumi pun rupanya tidak mau kompromi lagi. Masak waktu juga baru menunjukkan pkl. 8.30 WIB, tetapi panasnya udah minta ampun. Ironisnya, ini terjadi kan di Bulan Desember, bulan yang masuk dalam kategori musim penghujan. Mau kiamat kali ya…, atau by the way, kali dampak the global warming & climate change kali ya...but I’m not scientist, so forget it, please.
Selain rasa panas & rasa bosan yang aku temukan sepanjang menunggu mobil perusahaan dari Bandung, aku pun merasakan betapa diri ini kurus kering dan miskin, kurus kering secara fisik dan miskin secara materi. Informasi saja, Kota Baru Parahyangan tempat aku nunggu rekan-rekan sekerjaku, merupakan perumahan ter-elit di kota Bandung ‘miniatur Kota Bandung/ Kota Parahyangan tepatnya’. Trus bayangin saja, seorang yang kurus, duduk di depan perumahan elit (nongkrong lho ya, bukan di kursi), sambil sesekali menghisap rokok ukuran murahan, makin sempurnalah ‘potret’ kemiskinanku atau bahkan dapat menambah sederet panjang potret kemiskinan di kota ini.Tetapi mudah-mudahan wartawan yang lewat tidak memiliki kepekaan estetis terhadap keberadaanku saat ini, yang sebenarnya dapat mereka abadikan untuk dijadikan inspirasi penulisan menarik tentang ‘potret’ kemiskinan kota ini.
Tragisnya lagi, dalam kondisiku yang seperti ini, tiba-tiba aku inget belasan tahun yang silam, saat aku minta ijin, doa dan restu kepada kedua orang tuaku untuk menggapai sukses di negeri orang. “Pak, mbok…, kulo badhe bidal dateng Bandung. Mboten wonten alesan sanesipun, kejawi mbenjing kulo kedhah dados tiyang sukses”, kataku waktu itu kepada orang tuaku. Tejemahannya begini: “Bapak dan Ibu…, saya mau berangkat ke Bandung. Tidak ada alasan lain tentunya, selain suatu saat nanti saya harus menjadi orang yang sukses”. Yah, tetapi apa boleh buat Bapak dan Ibu, niat untuk merubah nasib seperti dulu yang pernah saya ungkapkan memang masih ada, bahkan ini akan menjadi proyek yang berkelanjutan dalam hidupku. Tetapi toh aku pun serentak menyadari bahwa Tuhan lebih mengetahui mana yang jauh lebih baik dan mengetahui secara persis apa yang menjadi kebutuhanku saat ini. Berani menjelajah bumi, menerjang lautan dan membelah mega, ini sikap mental yang harus aku miliki. Supaya kemustahilan yang selalu menggelayuti pikiranku, dirubah menjadi kenyataan lantaran ketidak-mustahilan akan segala sesuatu yang dapat dikerjakan Tuhan bagiku. Dengan demikian, aku pun akan selalu dapat melihat segala sesuatu dibalik pengalaman dan kenyataan hidup yang harus aku temui dan rasakan, semata-mata tetap dalam koridor penyelenggaraan Illahi yang berlimpah dan tiada batas bagiku.
Klakson mobil yang dibunyikan secara berulang-ulang akhirnya memecahkan pergumulan batin dalam diriku. Nonggol kepala Mas Danang sambil berteriak: “Sorry Boss, terlambat. Saya harus ngambilin barang-barang titipan Pak Daniel!”. “ Ok. Ngak masalah Mas Danang. Aku ngerti”, jawabku. Akhirnya aku masuk ke mobil ( wauw, keroncong rohani kesukaan Mas Sopir, Boy!) dan mulailah perjalan kami menelusuri jalur puncak. Kebetulan bersama dengan saya ada bagian IT & System ( P. Erwin Mulyawan dan P. Irvan Budi Santoso) yang juga ikutan keliling ke cabang-cabang untuk menambah dan memperbaiki sistem komputerisasi administrasi seluruh outlet luar kota dan sekalian ngikutin presentasi program accounting di Jakarta. Selain itu juga, aku pun harus berangkat dalam satu mobil dengan beberapa rekan finance & accounting Staff ( Ibu Herna Pandiangan & Ibu Novi Anggraeni) yang secara khusus akan mengikuti presentasi program accounting di Jakarta bersama Ibu Suzanna Setiaputra (CSO perusahaan). Sementara aku sendiri berkepentingan ke Bogor Boutique Outlet dan Red Factory Outlet untuk melakukan perekrutan bersama Recruitment Center Unit (Ibu Peni Riantini). Kebetulan saja, perusahaan lagi membutuhkan 11 (sebelas) karyawan untuk posisi Sales Attendant Outlet ( tujuh Bogor Boutique dan empat Red Cipayung).
Perhentian pertama di Cipanas Factory Outlet (kira-kira 09.45), Pak Irvan & P. Erwin yang turun dan yang akan berurusan dengan persoalan-persoalan komputer tentunya. Kecuali aku, cruw yang lain pun turun sekedar ‘say hello’ dengan karyawan setempat (maklum, ini perjalanan pertama kali Bu Herna dan Bu Novi ke cabang-cabang) sambil keliling melihat-lihat seputar lingkungan outlet. Aku pilih tidak turun lantaran kondisi fisikku yang memang kurang fit. Bahkan sebelum berangkat istriku pun udah nyempatin diri nyiapin ‘jamu tolak angin’ untuk aku minum. Dari Cipanas Factory Outlet, kami melanjutkan perjalanan ke dse Cimacan Factory Outlet ( enam menit seperjalanan dari Cipanas Factory Outlet). Setibanya di dse Cimacan , semua cruw pun turun kembali, tetapi aku memilih untuk tetap tinggal di dalam mobil. Justru Gina Novianti (Spv Cimacan Factory Outlet) yang datang menghampiriku untuk membicarakan hal-hal terkait status kekaryawanannya. Kira-kira hanya sepuluh menit kami berada di Cimacan, dan sesudahnya kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Red Cipayung (kira-kira 30 menit perjalanan).Dan kembali Pak Irvan dan Pak Erwin segera turun untuk urusan-urusan yang terkait dengan komputer. Hari sedang hujan lebat. Sementara Pak Erwin dan Pak Irvan bekerja, yang lain pun terpaksa turun lantaran tidak kuasa untuk menahan air kencing yang mungkin udah terkumpul berliter-liter di dalam tubuh. Memang, aku berkepentingan dengan Red Factory Outlet, tetapi lebih terkait dengan rekrutment karyawan, sementara recruitment sendiri dipusatkan di Bogor Boutique Outlet. Maka sekali lagi, saya pun memilih untuk tetap diam dan tidak turun dari dalam mobil. Setelah urusan di Red Factory Outlet selesai secara keseluruhan, akhirnya kami pun meluncur ke arah Kota Bogor menuju Bogor Boutique Outlet yang menjadi tujuan utamaku. Kira-kira satu jam perjalanan menggunakan mobil jarak antara Red Cipayung dengan Bogor Boutique Outlet.
Sampailah kami di Bogor Boutique Outlet sekitar pkl. 13.00 WIB. Perut udah keroncongan tentunya, tetapi alhamdullilah ‘makanan udah tersedia dan minuman udah terjamin”. Santap, santap, santap…, akhirnya ludes “selesailah dengan urusan duniawi”. Tidak selang beberapa lama, team yang ke Jakarta pun dianter oleh Mas Danang ngikutin meeting. Sementara mereka berangkat ke Jakarta, Ibu Peni Riantini segera melakukan psikotest dengan 20 (dua puluh) peserta yang hadir. Aku pun terlibat pembicaraan dari yang serius sampai yang kurang serius dengan Ibu Savitri Devi (Area Head III) yang kebetulan ngantornya di Bogor Boutique Outlet. Obrolan yang serius tentu masalah karyawan dengan liku-liku persoalan yang dihadapinya, berikut pencarian solusi untuk topik-topik tertentu. Yang kurang serius sebenarnya terkait pembicaraan kami tentang spesies bunga Adenium, Aglaonema, Anthurium dan Caladium. Kebetulan, aku termasuk pemerhati bunga, sementara suami Bu Devy rupanya lagi gencar bisnis bunga-bunga berharga semacam itu. Tetapi pembicaraan kami lebih tersedot pada tema Anthurium Jenmanii( terutama cobra), Anthurium Hokeri, dan Anthurium Plowmani Croat).Waow…, jutaan hingga ratusan juta bahkan. Yang bener aja ah…Udah banyak yang ngebuktiin loch yah (termasuk suami Bu Devi kali ya…).
Alhasil dari pembicaraan tentang bunga, akhirnya saya pesan 5 (lima) pot Bunga Gelombang Cinta. “Lain kali indukan Jenmanii Cobra loh ya”, kata Bu Devi. Ya...Jenmanii Cobra, rambutku digadaikan satu-persatu aja ngak akan bisa untuk beli bijinya, apalagi indukannya…
Ok. sudah waktunya aku harus menginterview karyawan, kira-kira waktu menunjukkan pkl 15.30 WIB saat Bu Peni Riantini menutup psikotestnya. Satu per satu pun calon pelamar akhirnya menjalani tahap interview bersamaku hingga selesai. Tapi sayang, dari 20 (dua puluh) pelamar…, berdasarkan parameter yang kami kenakan kepada masing-masing peserta, hanya beberapa pelamar yang memenuhi kualifikasi, sementara kebutuhan kami relatif banyak. Tetapi apa boleh buat, padatnya job di kantor pusat dan pertimbangan lain-lainnya yang ikut menentukan, akhirnya kami memutuskan untuk mencukupi kebutuhan karyawan dengan prinsip ‘seadanya’. Toh, tiga bulan ke depan kan dapat kita pantau. Sejauh bagus ya silahkan lanjut, tetapi kalo kurang berdasarkan kualifikasi, ya akan kami akhiri sebelum masa trainning berakhir. O iya, sebelum melakukan interview, aku sempat mengakhiri masa kerja karyawan Bogor Boutique Outlet, yang bernama Eka Sri Purwanti ( menikah sebelum masa kerja 1 tahun). Waduh, tidak tega sebenarnya aku. Tapi apa boleh buat, ketentuan mengharuskan demikian. “Terima kasih Eka atas persahabatan dan kerja-samanya selama ini. Kami yakin, Eka akan cepat mendapatkan pekerjaan yang baru lagi dan masa depan yang cerah akan selalu bersama Eka”, begitu kataku. Sampai di sini urusanku dengan Bogor Boutique dan Red Cipayung udah selesai. Waktu kira-kita udah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Danang pun sudah siap nganter aku dan Ibu Peni Riantini ke Jakarta sakalian ngejemput rekan-rekan yang meeting di sana.
Malang tidak dapat ditolak, untung pun tidak dapat di raih, begitu bunyi pepatah. Sepanjang perjalanan dari Bogor ke Jakarta macet total. Kondisi kami udah lelah sebenarnya (apalagi Pak Sopir yang bolak-balik ya..). Baru kira-kira pkl. 22.30 kami sampai di Jakarta (Puri Indah). Sesuatu yang mengejutkan, ternyata Ibu Susan (CSO) sangat terampil dalam memainkan piano dengan lagu-lagu klasiknya. Sambil ngobrol ke sana kemari, kami sangat dihibur dengan permainan lagu-lagu klasiknya “terasa kembali ke Abad Pertengahan’. Pengalaman langka dan diluar dugaan kami setelah sekian tahun kami mengenal dan bersama Ibu Susan dalam satu perusahaan. Yang jelas kami tahu, Beliau sangat ‘datais’, logis berdasarkan data dan sangat detail dalam banyak hal. Rupanya hobbynya berklasik ria dapat dijadikan alat bantu untuk memahami karakter Beliau yang seperti itu. Hebat dan salut Buat Ibu Susan!
Sayang, malam rupanya semakin larut, sementara kami harus kembali ke Bandung sehingga kami tidak dapat menikmati permainan piano Ibu Susan lebih lama lagi. Apalagi Pak Sigit (suami Ibu Susan) membawa berita bahwa Cipularang kilometer 121 ambles. Kita disaranin untuk segera pulang, tanpa maksud untuk mengusir kami. Akhirnya kami pun pamit dan mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan mereka sekeluarga. Meluncurlah kami semua dari Puri Indah ke tol Cipularang ke arah Bandung. Waktu kira-kira sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB saat mobil meluncur kencang di jalur tol Cipularang. Singkat cerita perjalanan kami di tol Cipularang, kami semua tertidur dan tahu-tahu sampai di Bandung. Mimpi apa sepanjang tidur, kami pun udah ngak dapat mengingatnya. Apalagi teriakan Mas Danang: “ Pak Wahyu, kloter Padalarang udah nyampai. Siap-siap”, begitu teriaknya membangunkanku yang sedang pulas tertidur. “Ok. Mas Danang. Aku anter sampai PT. BIMETA KARNUSA (perusahaan tempat isteriku bekerja) ya. Motorku aku titipin di sana “, pintaku. “Baik Pak Wahyu”, jawabnya. Kira-kira sepuluh menit, sampailah aku di PT. BIMETA KARNUSA. Kemudian aku ngucapin terima kasih kepada Mas Danang dan rekan-rekan lainnya, baru setelah itu aku turun. Sementara mereka melanjutkan perjalanan ke Bandung, saya pergi ngambil motor di dalam perusahaan dan setelahnya pergi melanjutkan perjalanan menuju rumah. Sampai rumah kira-kira pukul 02.15 dini hari. Hehe…, rupanya anakku no.1 satu Yohanes Krisostomus Dibyo Yuwono (IO) setia menunggu kedatanganku hingga tertidur di sebuah kasur lantai tidak jauh dari pintu utama rumah kami. Sebuah pemandangan yang mengharukan dan sangat menyentuh hatiku “ rasa sayang anak kepada orang tuanya”.
Aku mengawali kisah perjalananku pada hari ini, sementara anakkulah yang akhirnya menutup seluruh kisahku itu. Selamat tidur sayang, suatu saat Io akan tahu betapa penting arti bertanggung-jawab dalam mengemban tugas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar