Rabu, 19 Desember 2007

Komentar Kritis atas Pemikiran Ibnu Rusyd (2)

KEAZALIAN ALAM DAN TUHAN

(Pemikiran Ibnu Ruzyd dalam Rentang Sejarah).

3.2 Redefinisi dan Tafsir atas Pemikiran Ibnu Rusyd

Pada bagian ini, saya akan mencoba menafsir ide pokok dalam konsep keazalian alam dan Tuhan menurut Ibnu Rusyd. Penafsiran yang akan saya lakukan tentunya serentak menunjukkan kritik atas pemikiran Ibnu Rusyd dan merumuskan kembali pemikirannya secara baru, suatu cara pandang baru terhadap diri manusia, alam, dan keterkaitannya dengan Tuhan. Lebih lanjut, pemahaman saya atas pemikiran Ibnu Rusyd akan membantu saya juga dalam melihat serta memahami visi etis Ibnu Rusyd.

3.2.1.Tinjauan Baru atas Teori Emanasi Ibnu Rusyd

Masalah bagaimana alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan, Ibnu Rusyd menjelaskannya dengan teori emanasi.Persoalan kemudian yang muncul menurut saya, teori emanasi Ibnu Rusyd tidak begitu menampakkan apakah alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan karena kehendaknya, ataukah alam yang melimpah dari Tuhan itu terjadi dengan sendirinya, tanpa kehendak-Nya, sehingga Ia adalah Tuhan yang terpaksa berbuat sesuatu tanpa kehendak dan pilihan. Ibnu Rusyd dalam hal ini ngambang dalam memberikan penjelasan atas teorinya. Dalam teori emanasinya, alam melimpah dari Tuhan karena Ia Mahasempurna. Kalaupun muncul pemahaman akan adanya kehendak dalam teori emanasinya, itu pun sebagai konsekuensi pemaparannya atas kesempurnaan Tuhan. Baginya, kesempurnaan Tuhan harus dilihat dari sisi perbuatannya secara azali, karena sejak saat itulah kehendaknya sudah berlaku. Jika kesempurnaan Tuhan tidak dilihat dari sisi perbuatannya sejak azali, maka ada saat di mana Tuhan menganggur pada zaman tertentu. Hal ini merupakan hal yang tidak sesuai dengan sifat kesempurnaan Tuhan. Lebih lanjut, Ibnu Rusyd nenyatakan dalam teorinya bahwa dari Yang Esa haruslah beragam yang melimpah. Menurut hemat saya, pemahaman Ibnu Rusyd semacam ini kemungkinan didasarkan pada suatu pemahaman akan fakta alam semesta ini yang sangat beragam. Sehingga tidak tergambar kemungkinan bahwa alam ini hasil perbuatan Tuhan, jika dari Yang Esa hanya satu yang melimpah.

Berseberangan dengan teori emanasi Ibnu Rusyd, persoalan dari yang Esa haruslah hanya satu yang melimpah merupakan suatu persoalam yang sudah disepakati oleh kalangan filsuf klasik. Para filsuf sepakat bahwa pinsip atau dasar alam semesta alam ini haruslah satu. Maka, dari Yang Esa haruslah satu yang melimpah. Dua dasar ini telah diakui kebenarannya dalam kalangan para filsuf klasik, dan atas dasar itu barulah mereka mempertanyakan dari mana asalnya keberagaman alam semesta ini (Lih. Dr. Ahmad Daudy, Op. Cit., hlm 30).

Segala sesuatu melimpah dan dijadikan dari Prinsip Pertama (Tuhan). Alam semesta sebagai totalitas telah dijadikan oleh Tuhan dengan kekuatan sehingga meresap di dalamnya. Dengan begitu, jadilah alam semesta sebagai suatu kesatuan yang sesuai dengan perbuatan Tuhan. Karena kalao tidak dipahami demikian, maka tidak ada aturan dan ketertiban di alam ini. Menurut hemat saya, kekuatan yang meresap dalam alam semesta itu tidak lain adalah creative power yang disertakan dalam proses emanasi yang memungkinkan alam semesta memiliki potensi untuk berubah roman dan bersalin rupa.

Perihal penyebab keberagaman realitas particular di alam semesta ini, Ibnu Rusyd melihat bahwa Tuhan sendiri yang memunculkan keberagaman sejak azali dan dengan tindakan yang serentak. Menurut hemat saya, rupanya pemikiran Ibnu Rusyd harus dipahami bahwa antara alam dan Tuhan terdapat perbedaan kualitas yang besar, walaupun alam sendiri bersifat azali. Perbedaan itu tampak pada Sebab (Tuhan) yang membuat alam ini berwujud. Dengan begitu, rupanya alam ini azali dari perspektif zaman mengingat wujudnya ada bersama Tuhan. Adapun dari sudut zat, alam ini baru, karena munculnya alam ini berasal dari Penyebabnya( Tuhan ), Zat Azali.

Lebih lanjut, Ibnu Rusyd dalam teori emanasinya menyatakan bahwa alam semesta terjadi karena suatu keharusan mutlak. Kalo emanasi dipahami sebagai keharusan mutlak, sebenarnya harus dikatakan bahwa Tuhan telah mengikatkan diri dengan alam semesta. Dengan begitu, Tuhan sebenarnya tidak independen lagi. Pemahaman seperti ini sebenarnya dapat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa pemikiran Ibnu Rusyd ditemukan ketidak-konsitenan. Di satu sisi, pemikiran Ibnu Rusyd secara jelas menyatakan bahwa Tuhan itu independen. Tetapi di sisi lain, pemikirannya dapat memunculkan kesan bahwa Tuhan tidak independen dengan mengikatkan Diri dengan alam semesta.

Dengan demikian, dari teori emanasi ini, saya dapat menyimpulkan bahwa Ibnu Rusyd tidak pernahmampu mengelak dari setiap tuduhan bahwa teori melimpahnya itu akan membawa penganutnya pada keyakinan bahwa alam ini azali serta menafikan kehendak dan kebebasan Tuhan, jika alam ini tercipta karena suatu keharusan mutlak.

3.2.2 Tinjauan Baru atas “Penggerak Pertama”.

Dalam proses penciptaan, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa bukan Tuhan yang telah menciptakan alam semesta secara langsung. Posisi Tuhan terhadap alam semesta hanyalah sebagai perantara. Posisi sebagai perantara inilah yang menyebabkan adanya gerak. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber gerak, akan tetapi bukan Tuhan yang bekerja menjadikan alam semesta. Tuhan sebagai sumber penggerak tidak bergerak dan tidak ada penggeraknya. Tuhan adalah Penyebab Pertama dan sebagai Penggerak Pertama. Dari urain singkat di atas, pemahaman Ibnu Rusyd bahwa Tuhan sebagai Penggerak Pertama sebenarnya ia ingin memahami hakikat alam dan Tuhan secara lain. Ibnu Rusyd ingin mengukuhkan keyakinannya bahwa alam semesta azali, tidak berawal dan tidak berkesudahan. Alam semesta tidak diciptakan dalam waktu (enam) hari), tetapi di luar waktu (enam hari). Alam tidak diciptakan dari kekosongan, dari tiada menjadi ada, tetapi alam semesta diciptakan dari “ada” menjadi “ada yang lain”. Alam semesta juga bukan diciptakan dari bahan tertentu, karena alam semesta merupakan keseluruhan dari bahan yang ada.

Menurut hemat saya, selain tendensi di atas, sebenarnya dalam pemikirannya Ibnu Rusyd tetap berada dalam haluan hukum normal alam semesta. Satu-satunya Sebab yang bukan merupakan akibat dari sebab sebelumnya bagi Ibnu Rusyd adalah Tuhan. Dia adalah substansi yang memungkinkan eksistensi segala sesuatu. Eksistensi segala sesuatu menjadi tidak mungkin tanpa dimungkinkan oleh sebab yang bukan merupakan akibat dari Sebab sebelumnya, yaitu Tuhan. Begitu Sebab itu bekerja, akibat pun mengikuti (menjadi ada) sehingga sesuai dengan hukum normal alam semesta.

Dengan mengikuti hukum normal alam semesta seperti di atas, sebenarnya atribut “Penggerak Pertama” bagi Tuhan, dalam konsepsi Ibnu Rusyd, masih tetap dapat menunjukkan kesinambungan antara Tuhan dengan alam semesta. Dengan kata lain, Ibnu Rusyd tetap mampu menunjukkan bahwa Tuhan tetap terlibat di dalam alam semesta, termasuk mengendalikan realitas particular di dalamnya.

3.2.3 Tinjauan Baru atas Pengetahuan Tuhan dan Realitas Partikular di Alam Semesta.

Dalam konsepsinya, Ibnu Rusyd memahami Tuhan sebagai Akal Tertinggi. Karena Tuhan adalah akal yang Tertinggi, maka pengetahuan dari Akal Tertinggi itu haruslah pengetahuan akan hal tertinggi pula. Hal ini dimaksudkan agar ada persesuaian antara yang mengetahui dengan yang diketahui. Karena itu, sangatlah tidak mungkin Tuhan itu mengetahui selain daripada Zatnya-Nya sendiri. Pengetahuan Tuhan akan zat-Nya itulah yang menjadi sebab pengetahuan Tuhan secara universal. Hal ini mengandaikan bahwa pengetahuan Tuhan mengenai hal-hal particular tidaklah mungkin.

Dari uraian di atas, penulis melihat bahwa Ibnu Rusyd tidak bisa begitu saja membebaskan diri dari tuduhan bahwa dia telah membatasi pengetahuan Tuhan sebatas zat-Nya belaka, tanpa mau peduli akan realitas particular. Ibnu Rusyd telah “memenjarakan” pengetahuan Tuhan sebatas yang bersifat universal belaka, yaitu struktur alam, prinsip-prinsip dasar yang terletak pada inti segala sesuatu. Dalam konteks ini, Ibnu Rusyd tidak ubahnya sebagai ‘durjana’ bagi kaum agamis. Bagi kaum agamis, Tuhan mesti mengetahui semua peristiwa keseharian, karena Dialah yang akan memberikan pahala dan siksa. Tuhan adalah Dia yang mendengarkan dos-doa serta Dia yang menaruh perhatian besar atas alam semesta. Tetapi apakah persoalannya semudah itu? Tidak adakah interpretasi lain yang timbul dari pemikiran Ibnu Rusyd?

Untuk memahami persoalan di atas, saya akan menganalogkan dua pandangan managemen dengan pemikiran Ibnu Rusyd. Pertama, salah satu pandangan managemen menuntut seorang menejer untuk mengetahui semua hal dalam organisasinya dan bertanggung-jawab atas segala hal yang terjadi. Konsekuensinya, seorang menteri akan dipecat apabila pegawainya melakukan pelanggaran. Kedua, pada tahun 1990-an, model baru ini misalnya, seorang menteri hanya bertyanggung-jawab atas organisasi secara umum dalam suatu departemen dan tidak ada pelaksanaan harian.

Dari analog di atas, saya cenderung mensejajarkan pemikiran Ibnu Rusyd dalam analogi kedua, yang lebih longgar atas tanggung jawab. Seorang menejer memang digambarkan sebagai yang tidak tahu mengenai organisasinya, tetapi bukan berarti karena ketidak-mampuannya, melainkan karena hal itu tidak penting untuknya. Yang lebih penting adalah kebijaksanaan dan penyelenggaraannya, dan bukan tetekbengek pelaksanaan semua segi kebijaksanaan tersebut. Memang, saya sadar sepenuhnya bahwa pemahaman ala menejer yang fana itu tidak dapat diterapkan begitu saja bagi Tuhan dalam pemikiran Ibnu Rusyd. Akan tetapi, bertolak dari analog di atas, saya bermaksud untuk masuk lebih jauh ke dalam pemikiran Ibnu Rusyd, sehingga persoalan yang dimunculkan sebagai konsekuensi pemikirannya dapat didekati secara lebih proporsional.

Seperti diungkapkan oleh Ibnu Rusyd, pada satu sisi, pengetahuan Tuhan mirip dengan pengetahuan manusia. Akan tetapi di sisi lain, pengetahuan Tuhan berbeda dengan pengetahuan manusia. Pengetahuan Tuhan dikatakan mirip dengan pengetahuan manusia karena pengetahuan Tuhan mengandung pernyataan-pernyataan yang ia sadari sebagai pernyataan yang logis dan benar. Sementara pengetahuan Tuhan berbeda dengan pengetahuan manusia karena Tuhan menciptakan objek-objek pengetahuan-Nya dan mempunyai akses terhadap semua obyek itu secara berbeda dengan manusia. Tuhan tidak harus mencari tahu akan apa yang bakal harus terjadi atau belajar mengenai objek-objek pengetahuan-Nya. Dengan segera mengetahui semua yang mesti diketahui, tanpa Dia harus mengetahui semua yang manusia ketahui.

Dari gagasan Ibnu Rusyd di atas, akhirnya dapat dipahami pernyataan awalnya bahwa pengetahuan Tuhan hanya bersifat universal. Tuhan tidak mengetahui hal-hal particular. Dalam konteks ini, rupanya Ibnu Rusyd bukan bermaksud membatasi pengetahuan Tuhan atau bahkan secara keji bermaksud memenjarakan pengetahuan Tuhan di balik jeruji. Akan tetapi, Ibnu Rusyd memiliki tendensi untuk menghindari pemaksaan jenis pengetahuan manusia dalam memahami pengetahuan Tuhan. Hal ini tentunya lebih didasarkan pada suatu pemahaman bahwa memaksakan jenis pengetahuan manusia tidak ubahnya memaksakan keterbatasannya kepada Tuhan. Kecenderungan semacam itulah menurut hemat saya yang berusaha dihindari oleh Ibnu Rusyd, karena pemaksaan keterbatasan manusia pada manusia kepada Tuhan sungguh-sungguh merusak ketuhanan-Nya.

Lebih jauh saya melihat bahwa kemahakuasaan Tuhan tidak harus berarti mengetahui segala hal. Kemahakuasaan Tuhan tidak bisa begitu saja diukur dengan pengetahuann-Nya akan segala sesuatu , termasuk obyek-obyek yang remeh dan sementara. Kemahakuasaan Tuhan harus dikaitkan dengan prinsip-prinsip umum yang mengatur alam semesta ini secara azali, yaitu zat-Nya sendiri. Dalam konteks pemahaman seperti inilah, konsepsi Ibnu Rusyd atas pengetahuan Tuhan dan realitas particular dapat dipahami secara lebih bijaksana.

3.2.4.Tinjauan Baru atas Keazalian Alam dan Tuhan Menurut Ibnu Rusyd

Dalam pemikiran Ibnu Rusyd, antara alam dan Tuhan tidak bisa dipisahkan. Dalam proses penciptaan, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa bukan Tuhan yang menciptakan alam secara langsung. Posisi Tuhan terhadap alam adalah sebagai pengantara pada benda. Posisi sebagai pengantara inilah yang menyebabkan adanya gerak. Dengan demikian, Tuhan merupakan sumber gerak, akan tetapi bukan Tuhan yang menjadikan alam semesta secara langsung.

Menurut hemat saya, pola pandang Ibnu Rusyd atas alam dan Tuhan di atas, memang benar-benar menghilangkan peran Tuhan, karena Tuhan hanya dilihat sebagai penyebab tidak langsung. Tidaklah cukup berbicara ikhwal Tuhan, jika yang dimaksud “Tuhan” berbeda dengan Tuhan yang dipahami dalam agama-agama. Bahasa tentang Tuhan, betul-betul menggambarkan Tuhan, dan bukan bahasa baru tentang ketuhanan yang dirampingkan, aturan-aturan tertentu mestinya ditaati.

Al-Ghazali dalam bukunya, Tahafut Al-Falasifah mengungkapkan bahwa aturan yang paling penting adalah Tuhan harus dipahami sebagai pelaku hakiki (The Real Agent). Tuhan sebagai pelaku sejati haruslah Tuhan yang bisa membuat keputusan sendiri, mengerjakan sesuatu yang dikehendaki-Nya sesuai dengan kesanggupan-Nya sendiri, dan memiliki pengaruh langsung terhadap alam semesta. Jika Tuhan yang dimaksud adalah pelaku hakiki, Dia pasti mempunyai kekuatan bertindak dengan cara apapun yang Ia kehendaki (Oliver Leaman, Op. Cit., hlm.28).

Tetapi persoalannya, apakah bisa begitu saja menghakimi pemikiran Ibnu Rusyd hanya berdasarkan penggalan pemikiran? Ibnu Rusyd sendiri jelas-jelas menyatakan bahwa Tuhan hanyalah menyebabkan gerak pada akal pertama saja. Sedangkan gerakan-gerakan selanjutnya, yang menimbulkan berbagai peristiwa di alam semesta ini disebabkan oleh akal-akal yang lain. Akal-akal yang lain yang dimaksudkan sebenarnya adalah creative power yang menyertai alam semesta, baik secara keseluruhan maupun realitas particular yang ada di alam semesta. Dengan begitu, harus dipahami bahwa Tuhan pun dalam konsepsi Ibnu Rusyd tetap memiliki keterlibatan terhadap alam semesta lewat creative power yang disertakan-Nya.

Menurut saya, creative power dalam konsepsi Ibnu Rusyd sebenarnya dapat disejajarkan dengan élan vital dalam pemikiran evolusi kreatif Henri Bergson. Bagi Bergson, apabila kita memperhatikan apa yang disingkapkan oleh intuisi kepada kita, maka kita tidak hanya sebatas menemukan duree dan perkembangan yang terus-menerus, melainkan juga suatu élan vital, suatu energi hidup atau pendorong hidup. Bergson menduga bahwa élan vital ini meresapi seluruh proses evolusi dan menentukan semua cirri evolusi yang penting. Elan vital inilah yang dipahami Bergson sebagai penyebab yang melalui bermacam-macam variasi akhirnya menghasilkan jenis-jenis baru. Henri Bergson adalah seorang filsuf berkebangsaan Perancis (1859-1941). Ia menolak secara tegas evolusi ala mekanisme dan menolak juga evolusi ala finalisme. Mekanisme adalah suatu pandangan yang mengintepretasikan evolusi sebagai perkembangan yang bersifat mekanis. Sementara finalisme adalah suatu pandangan yang memahami proses evolusi di mana evolusi memiliki suatu tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (Lih. K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX, Perancis, Jakarta, Gramedia, 1985,hlm.262).

Sementara Ibnu Rusyd memahami creative power sebagai potensi kreatif Tuhan yang juga memiliki energi hidup dan mendorong hidup yang disertakan pada alam semesta dalam proses emanasi, sehingga alam semesta memiliki potensi untuk memunculkan keberagaman, berubah muka dan bersalin roman sepanjang zaman dan tiada henti-hentinya. Perbedaannya, creative power Ibnu Rusyd yang senantiasa bergerak terus-menerus ini tidak memiliki arah gerakan atau tujuan. Sementara Bergson rupanya evolusi kreatifnya memiliki arah evolusi yang mengambil tiga jurusan: kehidupan tumbuhan, kehidupan imajinatif dan kehidupan intelijen, yang masing-masing diwujudkan pada taraf tumbuh-tumbuhan, serangga dan vertebrata (ibid).

Kalaupun dipahami sebagai evolusi kreatif sebagaiman Bergson memahami teorinya sebagai teori evolusi kraetif, demikian juga Ibnu Rusyd rupanya berbicara teori evolusi kreatif, kendati evolusinya tidak memiliki arah, karena evolusinya bersifat azali, tiada berawal dan tiada berkesudahan. Dengan demikian, pemikiran Ibnu Rusyd pun sangat berbeda dengan teori evolusi Darwin. Darwin memandang evolusi realitas selalu menuju suatu karakter dan bentuk yang sempurna. Sedangkan Ibnu Rusyd, evolusi bukan pada soal perubahan bentuk dan karakter realitas, dari yang kurang sempurna menuju yang lebih sempurna, melainkan soal adanya creative power pada alam semesta yang menyertai dan mendorong setiap realitas untuk membentuk karakternya sendiri. Darwin dalam bukunya, Survival of the Fittest menyatakan bahwa yang kuat akan hidup terus, sementara yang lemah akan mati. Dari sudut teori evolusi, setiap realitas, khususnya mahluk hidup selalu berevolusi menuju sesuatu yang lebuh sempurna, dalam arti yang lebih kuat. Variasi-variasi yang cocok supaya organisme dapat hidup terus dipilih dan diwariskan kepada generasi berikut. Sedangkan variasi lain ditinggalkan(lih. Lorens Bagus, Op. Cit., hlm. 223. Lih juga Oliver Leaman, Op.Cit., hlm.262). Menurut saya, pola pandang Darwin seperti di atas susah dipahami Ibnu Rusyd untuk melihat keberagaman alam semesta.

Keberagaman yang diakibatkan oleh creative power yang ada di alam semesta ini rupanya dalam pemikiran Ibnu Rusyd harus dipahami sebagai keberagaman yang diresapi oleh hanya satu substansi. Hal ini tampak dalam uraiannya tentang akal aktif (active intellect) dengan akal pasif (Receptive Intellect). Akal aktif adalah sumber dari segala jiwa alam semesta yang bersifat satu dan universal. Sementara akal pasif merupakan jiwa yang berkuasa sehari-hari dalam alam semesta yang berasal dari akal aktif yang satu dan universal.

Dengan uraian seperti di atas, saya memahami bahwa Ibnu Rusyd mau mengatakan bahwa keberagaman yang merupakan fakta alam semesta sebenarnya hanya diresapi oleh substansi yang satu dan univesal. Konsekuensinya, apa yang menyertai individu-individu bukanlah akal mereka sendiri lagi melainkan akal ilahi. Akan tetapi dalam hal ini, rupanya Ibnu Rusyd tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya secara terbuka, karena pernyataan itu akan memiliki implikasi bahwa segala yang ada itu pun Tuhan. Atau lebih tepatnya, segala pluralitas, yaitu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, juga pikiran dan perasaan tidaklah mandiri lagi. Itu semua hanya bentuk beradanya Tuhan, modus-modus, atau cara beradanya substansi yang satu itu. Terjatuh ke dalam pemahaman seperti itulah yang rupanya mau dihindari oleh Ibnu Rusyd.

Dalam konteks inilah, menurut penulis, keberatan terhadap pemikiran Ibnu Rusyd patut diajukan. Di satu sisi, Ibnu Rusyd berhasrat untuk tetap pada pendiriannya bahwa alam dan Tuhan itu sama-sama independen tanpa mengartikecilkan keterlibatan Tuhan dalam alam semesta lewat creative power. Tetapi di sisi lain, toh implikasi pernyataannya bahwa alam semesta ini yang diresapi oleh substansi yang universal, satu dan sama ternyata menjatuhkan pemahamannya sampai tingkat mengidentikkan alam semesta dengan Tuhan.

Tidak ada komentar: