
PANCANAKA SANG BIMA
Oleh: Ant.Dwi Wahyudi
Aku kan bercerita tentang perilakumu dulu kepadaku yang biadab, yang melampaui batas-bata moral-susila dan perikemanusiaan. Kamu yang memperkosa, kamu yang merusak, kamu yang jahat, kamu yang biadab, kamu yang durhaka, penuh tipu-muslihat dan kamu yang khianat. Karena kamu memperkosa jadilah aku mayat, kamu merusak jadilah aku mayat, kamu berbuat jahat jadilah aku mayat, kamu berbuat biadab jadilah aku mayat, kamu menjalankan tipu dan muslihat jadilah aku mayat, kamu durhaka jadilah aku mayat, dan karena kamu berkhianat maka jadilah aku mayat. Kamu, kamu dan karena kamu sehingga aku jadi mayat.
Sementara masa laluku menceritakan bahwa kepadaku diberikan kuku pancanaka. Kuku pancanaka dari Hutan Mandalasara, milik seorang bayi bungkus yang oleh Dewi Kunti diberi nama Bima. Begini dikisahkan kepadaku, putra Dewi Kunti yang merupakan buah cipta Bathara Bhayu dilahirkan dalam wujud bayi bungkus yang sangat liat. Kurang lebih di bulan yang ke delapan, bayi itu diletakkan di Hutan Mandalasara. Para jawara, pendita, brahmana yang sakti mandra guna tidak kuasa untuk membuka bungkusan itu. Alkisah, di kahyangan ada Gajah Setu Seno yang giat ulah tapa dan mati raga agar Dewata mengizinkannya masuk ke dalam surga manusia.Ia adalah anak dari Gajah Setu Bandha hewan tunggangan Bathara Indra. Dewata akan mengabulkan permohonannya dengan satu syarat bahwa ia harus menolong anak bayi bungkus dalam Hutan Mandalasara. Pada saat bungkusan berusia kurang lebih 12 tahun, Gajah Setu Seno datang merobek bungkusan tersebut dengan gadingnya yang kuat dan sakti mandra guna. Di dalam bungkusan itu ternyata ada seorang bocah besar dan sedemikian rupa berusaha untuk mematahkan gading Gajah Setu Seto ketika masuk ke dalam bungkusan. Kejadian ajaib terjadi, kedua gading gajah menyatu dengan kedua jempol dan berubah menjadi kuku yang runcing, tajam dan panjang.Kuku itulah yang tadi aku bilang sebagai kuku pancanaka yang pernah diberikan kepadaku.
Sekarang pancanaka entah kemana. Tak seorang manusia pun yang aku temukan memegang pancanaka.Yah, saya ingat pancanaka sempat aku tarik dan aku lempar sekuat tenagaku. Aku berharap ada manusia yang menemukannya, menggunakannya dan mencintainya. Aku tidak ingin pancanaka aku bawa sampai ajalku tiba; sementara aku lihat kamu mulai memperkosa, mulai merusak,mulai jahat, mulai durhaka, mulai biadab dan khianat. Ooh, pancanaka, mungkinkah ujud asal sudah lenyap-musna dimakan karat dan ngengat. Tidak pancanaka, selagi mayatku tetap utuh, masih tetap beraroma busuk dan tetap dikerubuti belatung, mustahil pancanaka lenyap-musna dimakan karat dan ngengat. Selama manusia tetap saja melakukanpemerkosaan, tetap saja masih hobi merusak kehidupan, tetap saja berbuat jahat dan tidak berlaku adil, tetap saja durhaka, bertindak biadab dan khianat, mustahil pancanaka hilang. Tidak, Oooh tidak! Andai wujud pancanaka harus lenyap-musna dimakan karat dan ngengat, setidaknya sukma pancanaka harus tetap ada.
Hai kamu, dengarkan aku…pancanaka adalah kelima tuntunan. Pancanaka pertama pengendalian nafsu untuk tidak membunuh. Pancanaka kedua pengendalian nafsu serakah/murka. Pancnaka ketiga pengendalian nafsu seks. Pancanaka keempat pengendalian nafsu kesenangan indrawi. Dan pancanaka kelima pengendalian nafsu untuk mencuri/merugikan orang lain. Aku mayat, hanya boleh kamu lihat dan aku mayat, silahkan kamu berbuat tentang apa yang kamu lihat bahwa aku menjadi mayat. Lihatlah aku mayat dan carilah pancanaka, kenakanlah dan sayangilah kalo kamu ingin hidup selamat. Aku terlanjur menjadi mayat, tetapi sekalipun aku mayat, aku tetap berharap kamu mau melihat bahwa aku telah menjadi mayat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar