Kamis, 22 November 2007

My transcripts

MENGENAL ANUGERAH TERINDAH BAWAAN LAHIR
Oleh: A. Dwi Wahyudi

“walau masih dalam keadaan terpendam, tersembunyi dan belum berkembang, benih keagungan, kedahsyatan dan keajaiban sudah ditanam dalam diri kita. Ada bakat, ada kemampuan, ada hak istimewa ada kecerdasan serta kesempatan yang kita terima sebagai anugerah menabjubkan yang kita miliki sejak lahir”


Terkait cuplikan kalimat di atas, semua orang tentunya sependapat untuk mengatakan bahwa bayi merupakan ciptaan yang sangat tergantung pada orang lain ‘ibunya’, tetapi keajaiban terjadi dan dalam beberapa tahun saja, sang bayi akan menjelma menjadi mahluk yang kuat dan cerdas. Ini terjadi karena ada anugerah bawaan sejak lahir, yang apabila kita latih dan kita manfaatkan, semakin banyak bakat yang kita dapatkan dan semakin kuatlah kemampuan kita.


Ada 3 (tiga) anugerah yang paling penting, ada yang sudah kita buka, tetapi masih banyak yang belum kita buka, yaitu:


1. Kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih

Kita sebagai pribadi adalah hasil dari pilihan-pilihan kita, bukan alam “gen”, atau pola asuhan “didikan,lingkungan”. Memang gen dan didikan kerapkali berpengaruh juga, tetapi tidak menentukan. Yang menentukan adalah pilihan kita sendiri berdasarkan nilai-nilai. Karena hakikat menjadi manusia apabila kita mampu mengarahkan hidup kita sendiri. Ini adalah anugerah yang terbesar yang memungkinkan anugerah-anugerah yang lain dapat kita terima. Ini juga yang memungkinkan kita mengangkat hidup ini ke tingkat yang semakin tinggi.


2. Hukum-hukum alam/prinsip-prinsip universal yang tidak berubah

Hukum alam, seperti rasa hormat,kejujuran, kebaikan hati, integritas, pelayanan dan keadilan, menentukan akibat dari pilihan-pilihan kita.Hukum alam bersifat impersonal, factual, objectif dan tidak dapat diperdebatkan. Berbagai akibat atau konsekuensi ditentukan oleh prinsip; perilaku ditentukan oleh nilai: karena itu hargailah prinsip-prinsip itu.


3. Kecerdasan kita/kemampuan kodrat kita

a. Kecerdasan Fisik ( Physical Quotient)

Tanpa kita perintah, tubuh kita menjalankan sistem pernafasan, sistem syaraf, dan sistem-sistem vital lainnya yang memungkinkan kita bertahan hidup.Tubuh kita laksana tangan-tangan cerdas gurita yang bergerak siang malam tanpa henti dan tiada tertandingi.

b. Kecerdasan Mental (Intelligence Quotient)

Kemampuan untuk menganalisis, berfikir dan menemukan hubungan sebab-akibat, berfikir abstrak, menggunakan bahasa, memvisualisasikan sesuatu dan memahami sesuatu.

c. Kecerdasan Emosional ( Emotional Quotient)

Pengetahuan mengenai diri, kepekaan sosial, empati dan berkomunikasi baik dengan orang lain, kepekaan mengenai waktu yang tepat, kepatutan secara sosial, keberanian mengakui kelemahan serta mengakui perbedaan. Kecerdasan emosional dianggap lebih kreatif, tempat intuisi,pengindraan dan bersifat holistic dan menyeluruh. Penggabungan antara kecerdasan mental (IQ)yang lebih logis dengan kecerdasan emosional (EQ) yang lebih bersifat perasaan/penginderaan akan menciptakan keseimbangan,penilaian dan kebijaksanaan yang lebih baik.

d. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)

Kecerdasan spiritual adalah pusat dan yang paling fundamental di antara kecerdasan yang lainnya, karena kecerdasan ini menjadi arah ‘kompas’ bagi kecerdasan yang lainnya.Kecerdasan spiritual membantu kita mencerna dan memahami prinsip-prinsip sejati,mewakili kerinduan kita akan makna dan hubungan dengan Yang Tak Terbatas.


Memfokuskan diri dalam upaya memanfaatkan dan melatih anugerah terbesar bawaan lahir itu sedemikian rupa, akan membuat hidup kita amat kuat dan damai sejahtera. Nampak sederhana dan mudah di tangkap akal sehat tentunya. Tetapi apa yang sudah diketahui oleh akal sehat, tentunya bukan jaminan juga bahwa sesuatu itu sudah banyak dipraktikkan. Sementara harus kita sadari, riset telah membuktikan bahwa ketidak-mampuan seseorang mengatur dirinya secara efisien akan menimbulkan penuaan dini, penurunan kecerdasan mental, dan bahkan menutup akses kecerdasan yang ada dalam diri kita. Dan yang sebaliknya juga berlaku, bila secara internal semakin padu, sistem fisiologis seseorang akan semakin efisien dan dia akan semakin kreatif, adaftif, luwes, berkepribadian matang, dan memiliki tingkat spiritual keagaamaan yang baik.


Bibliografi

Covey, Stephen R., The 8th Habit, Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Hall,C.S.,& Lindzey, G.,Teori-Teori Sifat dan Behavioristik, Kanisius,1993.

Tidak ada komentar: