Oleh: A. Dwi Wahyudi
Kita sebagai pribadi adalah hasil dari pilihan-pilihan kita, bukan alam “gen”, atau pola asuhan “didikan,lingkungan”. Memang gen dan didikan kerapkali berpengaruh juga, tetapi tidak menentukan. Yang menentukan adalah pilihan kita sendiri berdasarkan nilai-nilai. Karena hakikat menjadi manusia apabila kita mampu mengarahkan hidup kita sendiri. Ini adalah anugerah yang terbesar yang memungkinkan anugerah-anugerah yang lain dapat kita terima. Ini juga yang memungkinkan kita mengangkat hidup ini ke tingkat yang semakin tinggi.
Hukum alam, seperti rasa hormat,kejujuran, kebaikan hati, integritas, pelayanan dan keadilan, menentukan akibat dari pilihan-pilihan kita.Hukum alam bersifat impersonal, factual, objectif dan tidak dapat diperdebatkan. Berbagai akibat atau konsekuensi ditentukan oleh prinsip; perilaku ditentukan oleh nilai: karena itu hargailah prinsip-prinsip itu.
Tanpa kita perintah, tubuh kita menjalankan sistem pernafasan, sistem syaraf, dan sistem-sistem vital lainnya yang memungkinkan kita bertahan hidup.Tubuh kita laksana tangan-tangan cerdas gurita yang bergerak siang malam tanpa henti dan tiada tertandingi.
Kemampuan untuk menganalisis, berfikir dan menemukan hubungan sebab-akibat, berfikir abstrak, menggunakan bahasa, memvisualisasikan sesuatu dan memahami sesuatu.
Pengetahuan mengenai diri, kepekaan sosial, empati dan berkomunikasi baik dengan orang lain, kepekaan mengenai waktu yang tepat, kepatutan secara sosial, keberanian mengakui kelemahan serta mengakui perbedaan. Kecerdasan emosional dianggap lebih kreatif, tempat intuisi,pengindraan dan bersifat holistic dan menyeluruh. Penggabungan antara kecerdasan mental (IQ)yang lebih logis dengan kecerdasan emosional (EQ) yang lebih bersifat perasaan/penginderaan akan menciptakan keseimbangan,penilaian dan kebijaksanaan yang lebih baik.
Kecerdasan spiritual adalah pusat dan yang paling fundamental di antara kecerdasan yang lainnya, karena kecerdasan ini menjadi arah ‘kompas’ bagi kecerdasan yang lainnya.Kecerdasan spiritual membantu kita mencerna dan memahami prinsip-prinsip sejati,mewakili kerinduan kita akan makna dan hubungan dengan Yang Tak Terbatas.
Bibliografi
Covey, Stephen R., The 8th Habit, Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Hall,C.S.,& Lindzey, G.,Teori-Teori Sifat dan Behavioristik, Kanisius,1993.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar