Kamis, 29 November 2007

Cerpen


SANG JUBAH PUTIH DARI PUNCAK GUNUNG LAWU

Sementara lalu lalang orang disekeliling rumahku mulai berkurang, rembulan malam pun sudah merayap tepat di atas kepalaku. Lambat laun keadaan disekelilingku pun akhirnya berubah menjadi sepi dan sunyi. Sesekali hanyalah kedengaran sayup-sayup gemercik air dan suara hempasan pintu kamar dari tetangga sebelah yang turut membangkitkan kesadaranku bahwa malam makin larut. Namun apalah dayaku, mataku tiada mau terpejamkan kendati kesunyian malam sudah turun menyelimuti muka bumi dan dinginnya udara malam pun semakin dalam menusuk tulang-tulangku. Aku menengadah ke atas memandang rembulan sambil mendesah :’’Oh Tuhan, betapa Engkau Maha Kuasa dan segala sesuatu terjadi seturut kehendakMu”. Sejenak aku sempat kagum, diam dan tertegun betapa Tuhan Maha Kuasa dan kekuasaannya mengatasi segala akal dan pikiran manusia. Berbagai macam peristiwa dan pengalaman masa lalu pun akhirnya menyusul dan bermunculan silih berganti, mondar-madir, lalu lalang seolah menuntut perhatian dariku. Akhirnya pun aku tertarik untuk sejenak mengenang kisah perjumpaanku dengan seorang aki-aki berjubah putih yang misterius.

Waktu itu, kira-kira Februari 2001, aku sedang mengerjakan tugas akhirku di sebuah universitas ternama di Kota Bandung untuk program sarjana. Susah payah, belajar kuat untuk mengumpulkan bahan yang sesuai untuk skripsiku dan bekerja keras untuk mendapatkan suntikan dana buat biaya foto copy, buat bayar rental dan buat cetak hasil akhir sekripsiku.Badanku semakin kurus, wajahku kusut dan pandangan mataku kelihatan sayu. Tetapi aku harus selesai tepat pada waktunya dan mendapatkan nilai A, itu yang menjadi tekatku. Sangat susah aku bayangkan, andaikata aku harus mengulang kuliahku lagi hanya lantaran skripsi yang tidak bisa aku selesaikan. Tidak, aku tidak mau itu terjadi denganku. Aku harus selesai tepat pada waktunya. Kalo perlu, siang akan aku jadikan malam, dan malam pun akan aku jadikan siang. Tetapi syukurlah, aku tidak tinggal sendirian melainkan bertiga dalam bilik sempit rumah kost-kosanku. Kami terpaksa tidur hanya menggelar tikar tipis, ditengah-tengah ketakutan masuk angin dan serangan paru-paru basah. Kami sudah semacam saudara sendiri akhirnya. Suka dialami bersama dan dalam duka pun kami tetap bersatu, seia dan sekata.Keakraban seperti inilah yang akhirnya dapat aku harapkan pada saat-saat aku memerlukan bantuan seperti saat ini. Kalaupun mereka tidak punya ide, mereka bisa ngebantuin saya dalam penerjemahan bahan atau mengetik bahan,misalnya. Singkatnya, ada pertolongan yang bisa aku harap dari mereka. Yah, solidaritas mahasiswa miskin saja sebenarnya.

Di siang hari yang terik, aku pergi ke salah satu rental komputer untuk mengedit seluruh hasil ketikan skripsiku yang keesokan harinya harus disidangkan di kampus. Tetapi malang tidak dapat ditolak, untung pun tidak dapat diraih. Seluruh file skripsiku rupanya telah diacak-acak jenis virus yang ngetren waktu itu: hiden virus dan mr. king of kong. Aku sedemikian rupa berupaya untuk memperbaikinya. Tapi apa boleh buat, lihat komputer saja baru di rental, boro-boro mampu memperbaiki data yang sudah kocar-kacir seperti itu. Ahirnya aku dengan rasa letih diiringi perasaan kuatir dan takut melangkah dengan gontai kembali ke kamar kost. Tidak ada yang menghiburku selain sebatang rokok temanku yang kebetulan tergeletak di atas meja kecil. Tanpa minta ijin sebelumnya, rokok itu pun aku ambil dan aku nyalakan. Aku berharap agar sebatang rokok itu mampu mengusir rasa penat di dalam hati dan pikiranku. Seperti itulah yang akhirnya terjadi. Otot-otot syarafku yang tadinya tegang, seiring dengan tarikan dan kepulan asap dari dalam mulutku akhirnya berhasil mengendur. Dan rasa kantuk pun akhirnya datang menjemputku. Membawaku dalam buaian istirahat siang yang menyegarkan.

Aku menemukan diriku berada di kaki sebuah gunung yang aku sendiri tidak pernah tahu sebelumnya. Gunung itu menjulang tinggi dan menghijau permai dengan puncaknya yang mengeluarkan kepulan asap putih. Terlihat olehku sesosok aki-aki renta dengan postur tubuh yang tampak masih tegak berdiri, berpakaian putih, berjenggot putih, mengenakan ikat kepala berwarna keabu-abuan dan bertongkatkan kayu hutan hitam sedang berjalan dengan enteng menuruni kaki gunung serasa hendak menghampiriku. Tetapi dugaanku meleset karena secara tiba-tiba aki renta itu berbalik menaiki kaki kembali ke arah puncak gunung dengan kecepatan yang mustahil untuk orang sebayanya. Aku terpana memandangnya dan begitu tersentak dari keterpanaanku, aku tergerak untuk mengejarnya. Aku berlarian seolah sedang mengejar seribu bayang di sela-sela lebatnya pepohonan hutan. Aku berlari dan terus berlari sambil memasang mata liar untuk mendeteksi udah sampai di mana dan ke arah mana aki-aki renta itu berjalan. Sejenak aku kehilangan jejak dan sambil terengah-engah kuhampiri sebuah batu hitam besar yang sedang menelungkup tidak jauh dari tempatku berdiri. Aduh, capeknya tidak ketulungan hanya penasaran ingin tahu lebih tentang aki-aki yang pernah aku lihat di kaki gunung tadi. Kini aku terdiam, kehilangan arah dan jejak, aku menyerah dan terasa tidak mungkin lagi untuk melanjutkan pengejaran ini lagi.

Tetapi secara tiba-tiba, aku kaget dan tersentak karena sesosok aki-aki yang sekarang sedang berkecamuk di hati dan pikiranku, yang baru-baru saja aku kejar dan udah raib dari pandanganku, tampak berdiri tidak jauh dari batu tempat aku terduduk kehabisan daya, tenaga dan upaya untuk mengejarnya. “Hai Cucuku, kenapa kamu mengikutiku? Kamu tidak akan mampu”, sapa aki renta itu kepadaku. “Ohhh, Eyang ini siapa?”. Mendengar pertanyaanku aki itu tersenyum, menengadah ke atas ke arah puncak Gunung itu, sambil mengelus jenggotnya yang udah memutih seleher panjangnya. “Aki ini siapa berani-beraninya sendirian di tempat seperti ini?”, aku coba bertanya sekali lagi. Tetapi hanya seulas senyuman yang ramah yang aku dapatkan. Aku bingung dengan sikap aki itu dihadapanku, sementara aku ingin sekali mengetahuinya lebih lanjut. Tetapi tiba-tiba aki itu berkata: “ Cucuku, sekalipun baru pertama kali kita bertemu, jauh hari sebelumnya aku sebenarnya sudah tahu kamu dan sebaliknya jauh hari sebelumnya pun kamu pun juga udah tahu dan kenal sama eyang ini, bahkan hal yang sama pun sudah diketahui para leluhurmu”. “Benarkah apa yang Eyang katakan itu?”, tanyaku lagi. Aki itu hanya tersenyum sambil berjalan mendekatiku dengan sebatang tongkat kayu hutan hitam yang erat dipegang di tangan kanannya. Dan sementara aku melihat dia berjalan menghampiriku, akupun berdiri seolah mau menyambut kedatangannya.

Suasana sekitar pun terasa sunyi , hanya kicauan burung-burung hutan saja yang kedengaran bersahut-sahutan. Kami berdua pun sempat tertegun dan saling pandang seolah kami sibuk dengan pikiran kita masing-masing. Sampai suatu ketika aki-aki itu buka suara : “ Cucuku, tidak usah kuatir. Percaya saja sama Eyang tidak akan pernah terjadi apa-apa denganmu. Kalau pun ada hal yang terjadi, itu semata-mata kehendak Sang Yang Widhi Wasa. Dan apa yang terjadi itu baik adanya buat kamu. Hidup tidak selamanya lancar seperti yang kita harapkan. Kerikil dan bebatuan kerapkali kita temui ditengah-tengah perjalanan kita untuk sampai pada yang kita tuju. Jangan takut, Eyang selalu bersamamu”. Kemudian pandangannya tertuju pada tongkat kayu hitamnya, dan dengan tangan-tangannya yang lembut dia mengangkat tongkat itu tepat di depanku, seolah mau memberikan barang itu kepadaku. “ Cucuku, Eyang hanya memiliki sebuah tongkat kayu hitam yang tidak berharga ini. Terima dan ambillah, siapa tahu bermanfaat buat kamu nantinya”, kata aki itu kepadaku. Tanpa berpikir panjang, aku pun menerimanya.Dan belum habis kebingunganku dengan barang yang sudah saya terima, aku dikejutkan dengan raibnya aki dari hadapan dan pandanganku. Bersamaan dengan itu, aku pun terbangun dari nyenyak tidur siangku.

“Hi, mana tongkat pemberian aki tadi?”, kalimat pertamaku sambil sibuk mengusap kedua mata dengan tanganku. “Ohh, rupaya aku barusan mimpi, mimpi tentang aki-aki berjubah putih”, begitu gumamku. Kemudian aku segera bangkit dan melangkah ke kamar mandi untuk sejenak mencuci mukaku. Sesudahnya aku berniat ke rental lagi dengan maksud untuk berusaha memperbaiki data-data skripsiku yang hancur lebur dan porak poranda itu. Mungkin ini usaha untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya aku menyerah dan angkat tangan. Selang kurang lebih sepuluh menit, aku pun sampai di tempat rental komputer dan mulailah aku mencoba mengutak-atiknya. “Aduh Mas, bagaimana ya, dataku dihancurkan oleh virus. Sudah aku coba dari tadi aku tidak bisa memperbaikinya”, keluhku. “ Ya udah kalo gitu Mas, biar saya coba bantu kalo diijinkan”, kata salah seorang yang mengaku lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komputer terkenal di Bandung itu.. “ Oh, tentu Mas…dengan senang hati”, jawabku. Setelah berkenalan dan ngobrol ke sana ke mari, dia pun sibuk memperbaiki data-dataku yang sudah kocar-kacir. Sementara dia bekerja, saya duduk sedikit di belakangnya dengan pandangan mata takjub melihat kelincahan jari-jarinya yang meliuk-liuk di atas keyboard komputer. Kira-kira waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

“ Oouw…hidden verus, mr. King of kong!”, seru dia setelah mengetahui penyebab hancurnya fail-failku. “Kira-kira bisa diselamatkan tidak, Mas ya?”, tanyaku padanya. “Bisa saja sih, hanya butuh waktu. Ngak apa-apa kan?”, kilahnya. “Ooh, ngak apa-apa Mas. Aku yang seharusnya berterima kasih karena Mas mau meluangkan waktu untuk memperbaiki data-data skripsiku yang sudah porak-poranda itu”. “Yah, ini juga kebetulan saja Mas, saya lagi ada di sini lagian aku lagi ngak ada kerjaan sekarang”, sambungnya. Begitulah kami berdua ngobrol ke sana ke mari tanpa mengurangi kecermatan dan kecepatan jari-jarinya menyusun kalimat per kalimat menjadi seperti semula. Waktu pun terus berjalan dan tanpa kami sadari, arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Hingga pada akhirnya seluruh data skripsiku dapat tersusun pulih seperti sedia kala. “Oke terima kasih banyak Mas ya…,ngak tahu jadinyalah kalo Mas tidak menolong saya. Bisa jadi besok aku tidak bisa ikutan sidang”, ucapku. “Ok sama-sama Mas, kudoain dech sidangnya sukses dan dapat nilai yang bagus”, sambungnya. Kemudian aku bermaksud memberikan sebungkus rokok marllboro kepadanya tetapi dia menolak menerimanya.

Kurang lebih waktu itu sudah menunjukkan pukul 24.00 WIB sewaktu aku tiba kosku. Aduh, syukurlah…perjuanganku akhirnya membuahkan hasil. Besok akhirnya aku siap ikutan sidang skripsi. Hanya satu lagi yang terlintas dalam pikiranku, esok aku harus mendapatkan nilai A agar setimpal dengan perjuangan dan kekuatiranku selama ini. Aku bangga dan aku merasa lega dan akhirnya semuanya bisa berjalan sukses seperti yang aku rencanakan. Begitulah, akhirnya aku semacam terbebas dari himpitan yang selama ini menekanku. Dan rasa bebasku itulah yang waktu itu menghantarku dalam buaian istirahat malamku, sampai mentari esok hari kan datang menjemputku. Sidang skripsiku pun akhirnya berhasil aku lalui dengan baik dan tanpa perlawanan yang berarti dari dosen-dosen pengujiku. Aku hanya pegang satu prinsip saja waktu itu, aku yang buat dan akulah yang tahu, mereka (dosen-dosen) tidak tahu. Dengan prinsip ini aku berhasil membangkitkan rasa optimisme dalam diriku. Setidak-tidaknya rasa optimisme yang muncul itu mampu menghalau rasa grogi/minder pada saat berhadapan dengan dosen-dosen penguji. Alhamdullilah, harapanku tercapai dan mimpiku menjadi kenyataan. Begitu hasil sidang diumumkan, aku mendapatkan diriku memperoleh nilai A.

Pengalaman itu terasa membekas dalam sanubariku. Terutama pada saat-saat tertentu seperti sekarang ini, rasanya kenangan itu tetaplah menjadi sebuah kenangan hidup dan yang terpatri dalam sanubariku. Pengalaman yang susah untuk dilupakan, dan yang manis untuk dikenangkan. Suka dan dukaku, perjuanganku, prestasiku dan petualanganku kehadiran tokoh aki-aki berjubah putih yang turut berperan serta menghidupkan kisahku ini. Pengalaman ini akhirnya akan tetap mewarnai kisah hidupku. Keakrabanku dengan keindahan alam Gunung Lawu berikut kisah dan mitosnya, akhirnya mendorongku untuk selalu mengatakan bahwa aki-aki renta berjubah putih itu adalah Eyang Lawu, Sang Jubah Putih dari Puncak Gunung Lawu.

“cukurukukkkkk….cukurukukkkk, cukurukukkk….”, ayam jantan pun mulai berkokok, sahut menyahut mengidungkan madah pagi bagi semesta alam. Bahkan rembulan di atas kepalaku pun kini telah bergerak menggapai dedaunan pohon pisang di padang dataran sana. Huhahahemmmm, hari rupanya sudah pagi, aku mulai ngantuk. Aku harus cepat pergi tidur, waktu istirahatku tinggal dua jam lagi. Tetapi meskipun begitu, aku akan tetap pergi tidur dan aku akan selalu berharap agar dapat berjumpa kembali dengan Sang Jubah Putih Dari Puncak Gunung Lawu, kendati dalam istirahatku yang sangat singkat sekali pun.

Tidak ada komentar: